Dalam konteks pergantian pelatih, bukan suatu hal yang mengagetkan untuk Real Madrid menggeser manajer mereka di akhir musim meski telah berhasil mempersembahkan satu atau dua gelar bergengsi, namun yang dilakukan Zinedine Zidane menunjukkan sikap berbeda yang membuatnya pantas disebut sebagai legenda. Maestro Prancis itu memutuskan untuk mundur dari jabatannya hanya lima hari setelah membawa Madrid merengkuh trofi Liga Champion ketiga mereka secara berturut-turut.

Ketika pertama kali Zidane didapuk sebagai pelatih tim utama Real Madrid, tak sedikit suara sumbang yang bermunculan. Pasalnya, pria yang akrab dipanggil Zizou itu tidak memiliki pengalaman menukangi klub level tertinggi, meski pada tahun 2001 – 2006, ia merupakan salah satu Los Galacticos paling bersinar di klub ibukota Spanyol tersebut. Maka ketika ia diperkenalkan di hadapan publik setelah Rafa Benitez dipecat pada medio 2016, terdapat reaksi yang berbeda mengenai hal tersebut.

Adapun Zizou, dengan tenang perlahan melangkah untuk mengemban tugasnya. Pertama-tama, ia harus menyatukan ego para megabintang Real Madrid di ruang ganti, yang mampu dilakukannya tanpa kesulitan berarti. Kemudian, meski masih berjibaku dengan rival sengit Barcelona di kancah domestik, di musim perdananya Zidane mampu membimbing Madrid hingga ke partai puncak Liga Champion di musim debutnya, untuk berhadapan-dan kemudian menaklukkan-seteru sekota Atletico Madrid lewat babak adu penalti.

Musim pertama, trofi prestisius pertama, namun keraguan masih menyeruak terhadap kemampuan Zidane, terlebih di La Liga Madrid belum mampu mendobrak hegemoni Barcelona, tapi lagi-lagi semusim berikutnya, Los Blancos dibawanya ke partai final Liga Champion di Cardiff untuk menghadapi Juventus. Kala itu, sebagian besar pengamat berharap Bianconeri mampu memenangkan laga agar Buffon mampu meraih gelar Champion pertamanya, sayangnya semua harapan tersebut buyar oleh sepakan Cristiano Ronaldo, dan Zidane pun menjadi pelatih pertama yang mampu mempertahankan Si Kuping Besar sejak Liga Champion pertama kali digulirkan pada tahun 1992 silam.

Di musim kompetisi tahun ini, Zidane lagi-lagi mesti berjuang keras di liga Spanyol, dan memimpin skuad Madrid di bawha hantaman kritik dan gosip yang bertubi-tubi. Mereka memang akhirnya harus merelakan gelar juara La Liga ke sang musuh bebuyutan Barcelona, tapi di Liga Champion, ceritanya berbeda. Zidane kembali berhasil mencapai babak final di Kiev dengan mengalahkan lawan-lawan berat seperti PSG, Juventus dan Bayern Munchen. Strateginya yang jitu dan kemampuan membuat anak buahnya padu hingga rela melakukan segalanya untuk menang menjadi kunci utama permainan Madrid yang tak terhentikan di level Eropa. Di final, Madrid harus menghadapi Liverpool, yang lagi-lagi diunggulkan karena memiliki Mohammed Salah, seorang pejuang tangguh nan bersahaja yang menjadi primadona karena kerendahan hati serta tingginya skill individu yang dimilikinya. Lagi-lagi Zidane memutarbalikkan semua prediksi dan Madrid pun menjadi tim pertama yang mampu menjuarai Liga Champion tiga kali berturut-turut.

Kurang dari 29 bulan sejak menempati kursi kepelatihan di Santiago Bernabeu, Zidane akhirnya meninggalkan klub tersebut dengan torehan sejarah luar biasa yang mungkin tidak akan terulang. Terlepas dari sejumlah problema yang muncul belakangan (terutama rumor keretakan hubungannya dengan Gareth Bale) ia telah membuktikan kemampuannya sebagai pemain dan pelatih, legenda yang tak tergantikan, dan salah satu manajer terbaik yang pernah memimpin klub di Liga Champion UEFA.

Mundur (atau dipecat) kala mengalami kejatuhan adalah hal yang biasa bagi seorang pelatih, namun berhenti ketika di puncak, mungkin sejauh ini hanya Zidane yang melakukannya. Hal itu semakin menahbiskan dirinya sebagai maestro sejati, yang mengejar prestasi tapi tidak terbutakan oleh status dan lampu sorot kejayaan.

Comments