Bagi penikmat Liga Primer Inggris era 90’an (terutama fans Manchester United), tentu sudah tidak asing dengan sosok Ole Gunnar Solksjaer. Penyerang asal Norwegia tersebut merupakan salah satu legenda terbesar Setan Merah yang memberi kontribusi besar dalam sejumlah gelar prestisius. Berikut Bolazola coba mengajak para pembaca mengenang kembali 11 momen terhebat sang ‘Pembunuh Berwajah Bayi’ selama merumput di Old Trafford, diurut berdasarkan tahun hingga ia kembali sebagai (calon) pelatih tetap United musim ini. Mana yang paling anda ingat?

11. Debut Sempurna (1996)

Setelah gagal mendapatkan Alan Shearer di musim panas 1996, United langsung menemukan alternatif dalam diri seorang pemuda ‘antah berantah’ bernama Ole Gunnar Solksjaer, yang hanya berbanderol 1,5 juta Pounds atau sepersepuluh dari nilai Shearer yang ditaksir mencapai 15 juta Pounds. Tak butuh waktu lama bagi sang ujung tombak belia untuk melakukan debut kontra Blackburn Rovers dan langsung mencetak gol hanya enam menit setelah diturunkan Sir Alex dari bangku cadangan hingga United mampu meraup poin penting dengan hasil akhir 2-2. Sejarah pun mulai tercipta di Old Trafford..



10. Gelar dan Top Skorer (1997)

Setelah mencetak gol debutnya, Solskjaer langsung tancap gas dan tak lagi menoleh ke belakang. Selama musim 1996/1997, ia total mencetak 18 gol di kancah domestik dan mampu mengalahkan Eric Cantona sebagai top skorer klub. Lebih gemilang lagi, United juga meraih titel juara Liga Primer Inggris di putaran kompetisi tersebut. Konsistensi Solskjaer menjebol gawang lawan membuatnya menjadi pemain kedua yang mampu mencetak gol terbanyak bagi United di musim debutnya setelah Brian McClair di musim 1987/1988 silam.



9. Kartu Merah Heroik (1998)

Memang bukan pencapaian yang membanggakan, namun aksi Solskjaer yang berujung kartu merah di musim 1997/1998 membuatnya semakin dicintai oleh publik United. Bermain di laga sengit versus Newcastle United, MU sangat membutuhkan kemenangan atau setidaknya satu poin untuk tetap mengejar Arsenal di laju perburuan juara. Pada suatu kesempatan, striker Newcastle, Rob Lee mendapat peluang emas ketika tinggal berhadapan dengan kiper United, namun Solskjaer tanpa pikir panjang melakukan tekel keras pada lawannya tersebut hingga diusir oleh wasit. Tidak ada gol yang terjadi dan laga terhenti dengan skor 0-0 berkat pengorbanan heroik sang pemuda Norwegia.


8. Lahirnya ‘Supersub’ (1999)

Kedatangan Teddy Sheringham dan Dwight Yorke pada tahun 1997 dan 1998 membuat persaingan di lini depan United semakin ketat hingga Solksjaer pun resmi digeser untuk memainkan peran ‘cadangan maut’, dan ia pun menjadi semakin subur di ranah tersebut. Satu pertandingan yang paling membuktikan betapa berbahayanya Solskjaer kala dimasukkan dari bangku cadangan adalah ketika United menggunduli Nottingham Forest 8-1. Masuk di babak kedua kala kedudukan sudah 4-1, Solksjaer malah menggila dan mencetak empat gol tambahan seorang diri hanya dalam kurun waktu 13 menit.


7. Treble dan Menjebol Gawang Dua ‘Si Merah’ (1999)

Tahun terbaik Solskjaer sebagai pemain. Kembali berperan sebagai ‘supersub’ di laga final Liga Champion kontra Bayern Munchen di stadion selegendaris Camp Nou tak membuatnya jeri sedikitpun. Bersama Sheringham, sontekan refleks jarak dekat Solskjaer pun resmi menghantar Setan Merah memenangi Piala ‘Si Kuping Besar’ dalam aksi yang belakangan disebut sebagai comeback terhebat dalam sejarah sepakbola. Di awal musim itu, kaki Solksjaer juga memberikan kemenangan menit akhir atas Liverpool di Piala FA sehingga tim kebanggaan kota Manchester tersebut bisa meraih gelar Treble yang historis. “Football? Bloody hell!” kata Sir Alex!


6. Kembali Subur (2001)

Kendati Solskjaer tetap (dengan setia) menjalankan peran sebagai ‘supersub’ di era Dwight Yorke dan Andy Cole,
ia tak pernah mencetak kurang dari 10 gol setiap musim. Namun kehadiran Ruud Van Nistelrooy membawanya kembali ke gelanggang dengan gegap gempita. Meski United gagal meraih gelar apapun di musim tersebut, namun di level personal, Solskjaer melampaui pencapaian di musim debutnya dengan total 25 gol di semua kompetisi; termasuk 17 yang dicetaknya di Liga Primer Inggris.


5. Gelar Lagi! (2003)

Kesediaan serta talenta Solskjaer bermain di banyak posisi menjadi kunci keberhasilan United merebut kembali gelar domestik dari cengkraman Arsenal. Ia pun mulai sering dipasang di posisi sayap kanan dan bahkan beberapa kali menggeser David Beckham dari peran alaminya tersebut. Sepanjang musim, Solskjaer bermain sebagai starter di 29 laga Liga Primer, dan secara total tampil sebanyak 57 kali di semua kompetisi, menjadikannya pemain kedua dengan penampilan terbanyak musim itu setelah Ryan Giggs (59 laga)


4. Kembali Dari Cedera (2006)

Selepas tahun 2003, hampir selama tiga tahun Solskjaer berjuang untuk mengatasi cedera lutut akutnya yang mulai mendera di bulan September 2003. Ketika pulih di kompetisi 2006/2007, Solskjaer dihadapkan pada tim utama yang cukup asing dan kenyataan bahwa dirinya telah berstatus sebagai pemain ‘sepuh’. Kendati demikian, naluri mencetak golnya tetap terjaga, dan sempat memberi kontribusi maksimal lewat sepasang gol di kemenangan 2-0 versus Newcastle. United pun meraih gelar juara lagi di musim tersebut, keenam dan terakhir bagi Solskjaer di Old Trafford.


3. ‘Pulang’ (2014)

Memutuskan untuk gantung sepatu di akhir tahun 2007 pada usia 34 tahun, United memberi penghormatan terakhir bagi Solskjaer dengan sebuah laga testimonial yang dihadiri tak kurang dari 70 ribu penonton. Ia kemudian menerima tawaran melatih tim reserve United pada tahun 2011 sebelum kembali ke kampung halamannya, Norwegia, untuk menukangi Molde. Tiga tahun berselang, Solkkjaer bertandang ke Old Trafford sebagai pelatih Cardiff City di laga yang berkesudahan dengan skor 2-0 bagi United. Namun ia tetap mendapat sambutan hangat dari semua suporter tuan rumah yang memadati stadium.


2. Era Baru (2018)

Segera setelah memecat Jose Mourinho, United mengambil langkah drastis tak terduga dengan mengangkat Solskjaer sebagai pengganti interim The Special One pada bulan Desember 2018. Sempat diragukan oleh sebagian besar pengamat, Solskjaer mampu membawa United menang telak 5-1 atas mantan tim besutannya, Cardiff di laga debutnya. Para punggawa United disebut bermain sangat lepas dan bahagia di bawah tangan dingin Solskjaer, dan gol pertama tim di laga tersebut terjadi dalam tiga menit pertama.

1.Pembuktian Kelas (2019)

Solskjaer menyapu bersih delapan laga pertamanya dengan kemenangan; termasuk tiga poin di dua laga big match kontra Tottenham dan Arsenal. Sempat mengalami kekalahan di leg pertama Liga Champion versus PSG, ia langsung bangkit dan menggebuk Chelsea dengan penerapan taktik yang jitu. Tak hanya sampai disitu, si ‘Pembunuh Berwajah Bayi’ juga mampu membalas dendam atas PSG di leg kedua dengan skor 1-3 nan prestisius. Kini, setelah belasan laga (dan kemenangan), ia sudah mentahbiskan diri sebagai salah satu legenda terbesar Manchester United yang berpotensi besar untuk membawa klub tersebut ke era kejayaan baru meneruskan kiprah Sir Alex Ferguson.

Mantap Ole!

Comments