Liga Champion adalah salah satu ajang sepakbola palin prestisius di seantero Eropa, bahkan dunia. Berjuta-juta pemain berlaga di turnamen tersebut dengan satu impian; yakni mengangkat tinggi piala ‘Si Kuping Besar’ dan mencatat sejarah. Ketatnya kompetisi Liga Champion tidak hanya dirasakan oleh para pemain semenjana, tapi juga sejumlah punggawa level tertinggi yang tidak pernah memenangkan gelar tersebut sepanjang karir mereka yang gemilang. Berikut Bolazola rangkumkan 11 di antaranya dengan formasi fantasi 3-3-4. Apakah ada jagoan kamu di antaranya?

11. Kiper : Gianluigi Buffon 

Mungkin pemain yang paling sering diperbincangkan dalam topik di atas. Seperti yang kita semua ketahui, Gigi Buffon merupakan salah satu penjaga gawang terhebat sepanjang sejarah sepakbola. Pria Italia berjuluk ‘Superman’ itu acapkali berhasil menghantar Juventus ke final Liga Champion, hanya untuk dikandaskan lawan secara dramatis. Total 3 kali Buffon telah membawa Si Nyonya Tua ke partai pamungkas, namun 3 kali pula ia harus pulang dengan tangan hampa. Kini, masih ada harapan di penghujung karirnya bersama PSG. Jika Le Parisien mampu menggebrak di musim ini, bukan mustahil Buffon akan bisa mengakhiri kiprahnya dengan torehan gelar Liga Champion.

 

10. Bek Sentral : Lilian Thuram

Sebagai salah satu palang pintu terbaik di jamannya, rasanya nama Lilian Thuram sedikit ‘tenggelam’ dibandingkan rekan-rekan seeranya seperti Rio Ferdinand dan Alessandro Nesta, namun hanya ada segelintir bek tengah / bek kanan yang bisa menampilkan performa seprima pria asal Prancis tersebut. Sepanjang karirnya, Thuram diketahui sempat membela sejumlah klub elit; diantaranya AS Monaco, Parma, Juventus dan Barcelona dengan perolehan tiga Piala domestik, dua gelar Liga dan satu Piala UEFA, namun tidak pernah menjuarai Liga Champion hingga pensiun beberapa tahun silam. Namun Thuram tak perlu berkecil hati, karena kontribusi maksimalnya telah membuatnya tercatat dalam sejarah Prancis sebagai pemain dengan caps terbanyak untuk Les Bleus hingga saat ini.

 

9. Bek Sentral : Lothar Matthaus

Mengawali karirnya sebagai gelandang bertipe box-to-box, Lotthar Matthaus berevolusi menjadi seorang sweeper yang efektif di tahun-tahun terbaiknya, terlebih ketika membela Bayern Munchen. Di daftar ini, Matthaus bisa dibilang salah satu yang paling tidak beruntung. Pasalnya, meski telah mengumpulkan total 13 gelar di Jerman dan Italia, kapten der Panser itu tidak pernah mampu untuk meraih piala Liga Champion. Dua kali Matthaus menghantar Bayern ke final turnamen tersebut, hanya untuk tersingkir secara pahit. Mungkin yang masih paling membekas di ingatan adalah kala dikejutkan oleh Manchester United dengan skor 3-2 lewat dua gol menit akhir di tahun 1999 kemarin. Matthaus pun diketahui langsung membuang medali peringkat keduanya sesaat setelah diberikan. Tak heran..

 

8. Bek Sentral : Fabio Cannavaro 

Salah satu pemain terbaik di eranya, Fabio Cannavaro pernah menjuarai Piala Dunia bersama Italia dan juga menjadi satu dari segelintir bek yang pernah menerima penghargaan Ballon D’Or yang tersohor. Meski demikian, selama membela Internazionale Milan, Juventus (dua kali) dan Real Madrid, Cannavaro tidak pernah betul-betul bisa memberikan kontribusi signifikan bagi klubnya di ajang Liga Champion. Peluang terdekat Cannavaro untuk gelar tersebut adalah di musim 2002/2003 kala ia mencapai babak semifinal bersama Inter. Sayangnya, mereka secara ironis harus tersingkir dari rival sekota, AC Milan, dengan agregat gol tandang di San Siro.

 

7. Gelandang Bertahan : Patrick Vieira

Di level individu, Patrick Vieira sudah berhasil merebut hati banyak penikmat sepakbola lewat permainannya yang tangguh, tak kompromi dan skill olah bola yang menawan. Sayangnya, ia tak pernah bisa berbicara banyak di ajang Liga Champion sepanjang karirnya. Baik bersama Arsenal maupun Juventus, pencapaian terjauh Vieira di turnamen tersebut adalah babak perdelapan final. Sementara di tahun 2009/2010, ia sebetulnya bisa turut mengangkat Si Kuping Besar saat Inter juara, namun hal tersebut tak bisa dilakukan karena si jangkar andalan Prancis telah memutuskan untuk hengkang ke Manchester City di pertengahan musim. Aduh..

 

6. Gelandang Sentral : Michael Ballack

Sepanjang karirnya, Ballack sering membuat gol spektakuler dengan sepakan jarak jauh dan menjadi jenderal karismatik di lapangan tengah. Namun saat dia tidak beruntung, dia benar-benar tidak beruntung. Ada dua musim dalam karirnya dimana Ballack menjadi peringkat kedua di sejumlah kompetisi akbar, termasuk Liga Champion. Salah satu kenangan terburuk bagi Ballack adalah kala berjumpa Barcelona di semifinal tahun 2009 bersama Chelsea. Di laga tersebut, Chelsea sebetulnya bisa mendapat sejumlah kans penalti, namun tidak diberikan wasit sehingga mereka tersingkir secara menyedihkan dengan agregat 1-1 (Barca menang dengan keunggulan gol tandang)

Advertisement

 

5. Gelandang Kiri : Pavel Nedved

Di era terbaiknya, Pavel Nedved adalah salah satu gelandang serang paling menakutkan di lapangan hijau. Menyabet penghargaan Ballon D’Or di tahun 2003, sang Meriam Ceko nyaris tak tergantikan bagi Juventus di sepanjang musim, hingga suatu ketika ia mampu membawa Bianconeri ke partai final Liga Champion dengan serangkaian aksi individu menakjubkan. Performa Nedved di dua leg semifinal kontra Real Madrid bisa dikatakan fenomenal, namun kartu kuning yang tidak perlu membuatnya harus absen di partai puncak, dimana Juve akhirnya kalah dari rival senegara AC Milan melalui adu penalti.

 

4. Playmaker : Roberto Baggio

Penikmat sepakbola era 90’an pastinya sudah sangat akrab dengan nama Roberto Baggio. Selama bertahun-tahun, Si Buntut Kuda nan istimewa telah menjadi sorotan dan buah bibir karena aksi gentasnya di berbagai kompetisi tingkat tinggi sepakbola. Namun karena membludaknya talenta serupa di zaman tersebut, Baggio harus berjibaku keras di kualifikasi turnamen internasional seperti Liga Champion. Setelah empat tahun berjibaku di UEFA Cup bersama Juventus, Baggio memutuskan untuk hengkang ke AC Milan di musim 1994/1995 setelah menghantar Juve meraih Scudetto. Sialnya, selepas ia pindah, Juve malah bisa meraih gelar Si Kuping Besar di tahun 1996, sementara Baggio meredup di Turin dan akhirnya hanya total bermain sebanyak sembilan kali di Liga Champion sepanjang karirnya, dengan torehan empat gol, dan tanpa pernah meraih gelar ajang tersebut sama sekali hingga gantung sepatu.

 

3. Striker : Zlatan Ibrahimovic

Dibanding nama-nama legendaris lainnya seperti Fransesco Totti dan Dennis Bergkamp, Zlatan Ibrahimovic rasanya lebih pas untuk menghuni daftar ini sebagai penyerang utama, karena secara statistik, ia menjadi punggawa penting bagi sejumlah besar tim yang berlaga di Liga Champion sepanjang karirnya; diantaranya Barcelona, AC Milan, Internazionale Milan, Ajax Amsterdam hingga PSG. Kendati pria asal Swedia tersebut dikenal tak suka mengungkit-ungkit masa lalu, namun ia sebenarnya bisa menambah gelar Liga Champion di portfolionya jika saja bertahan sedikit lebih lama di Inter dan Barca. Sayangnya, Ibracadabra memilih untuk hengkang di saat yang kurang tepat, dan saat ini bisa dikatakan sudah tak memiliki kemungkinan untuk berjaya di Liga Champion. Sayang ya?

 

2. Striker : Luis Ronaldo

Bisa dibilang sebagai pemain terhebat yang tak pernah meraih gelar Liga Champion. Akan sangat tidak adil jika mengangkat perihal kegagalan Il Fenomeno di ajang tersebut tanpa menilik faktor cedera yang menodai karirnya yang gilang gemilang. Semasa bermain, Ronaldo dikenal sebagai striker tajam yang tak pernah kesulitan untuk mencetak gol, namun sayangnya, hal itu jarang bisa dilakukannya secara maksimal di Liga Champion karena seringnya ia naik ke meja perawatan. Meski demikian, ada beberapa momen luar biasa yang dibukukan Ronaldo di ajang tersebut; seperti kala nyaris seorang diri memporak-porandakan Manchester United di tahun 2003 silam.

 

1. Striker : Ruud Van Nistelrooy

Meski tak sementereng nama Roberto Baggio dan Luis Ronaldo, namun Ruud Van Nistelrooy memiliki kehebatan yang membuatnya bisa disebut sebagai salah satu ujung tombak terbaik di dunia. Ditopang dengan fisik yang prima, pria asal Belanda tersebut telah mencetak gol secara rutin di kancah tertinggi sejak membela Manchester United. Di ajang Liga Champion saja, ia menjadi pemain keempat yang mencetak gol terbanyak dengan 56 gol di 73 laga turnamen tersebut, hanya di bawah Cristiano Ronaldo, Lionel Messi dan Raul Gonzales. Namun entah mengapa nama Nistelrooy jarang dikumandangkan sebanyak para megabintang di atas. Yang lebih mengesankan lagi, ia adalah pemain satu-satunya sepanjang sejarah UEFA yang mengakhiri tiga musim Liga Champion sebagai top skorer tanpa pernah memenangkannya sama sekali.

Advertisement
Comments