Salah satu dari dua tim akhirnya akan membuat langkah yang menentukan untuk bersaing di babak penyisihan grup Liga Champions. Pemenang Piala Eropa, Crvena Zvezda, berkompetisi sejak edisi 1991/92 yang termasuk babak penyisihan grup setelah dua putaran eliminasi.

Namun hal itu tidak sampai tahun berikutnya dimana Piala Eropa berganti nama sebagai Liga Champions. Pada saat itu, Yugoslavia dilanda Perang Sipil dan setelah penetapan Yugoslavia, kemudian Serbia dan Montenegro dan akhirnya hanya Serbia.

Sepanjang tahun-tahun itu, Crvena Zvezda mengambil bagian dalam tahap kualifikasi Liga Champions tujuh kali tetapi tidak pernah berhasil melewati babak play-off. Kenyataannya kegagalan lolos ke fase grup Liga Champions memiliki dampak signifikan di Serbia.

Namun apa yang ada di UEFA menjadi fondasi dari apa yang sekarang menjadi klub elit sepakbola Eropa. Bahkan sedikit di bawah elit itu, klub-klub top dari negara-negara menengah telah diuntungkan. Tanpa klub-klub top Serbia sebagai peserta reguler, SuperLiga Serbia lebih didelegasikan sebagai akademi elit untuk prospek pemain muda yang akan membuat nama mereka di tempat lain di Eropa.

Tahun ini tidak berbeda dengan par apencari bakat yang menyaksikan pertandingan play-off Liga Champions ini. Klub di Jerman, Prancis, dan Spanyol masih diperbolehkan untuk menandatangani pemain sampai akhir Agustus, seperti banyak liga Eropa yang lebih kecil yang berada di atas Serbia. Oleh karena itu, jika Crvena Zvezda gagal lolos ke fase grup, beberapa talenta terbaik mungkin akan berakhir pada akhir Agustus.

Sedangkan Salzburg yang dilatih oleh Marco Rose nyaris mencapai final Liga Europa musim lalu. Bagian dari Red Bull yang juga mencakup tim-tim di New York, Ghana, Brasil dan Leipzig, tim ini juga menggunakan Gegenpressing.

Dan perlu diingat juga tim binaan Red Bull memainkan beberapa sepakbola terbaik di Eropa. Akibatnya, mereka juga menghasilkan beberapa talenta terbaik. Marco Rose memiliki beberapa situasi dan kegagalan lolos ke Liga Champions bisa melihat klub lain mencoba menandatangani orang-orang seperti Amadou Haidara, Diadie Samassékou, Xaver Schlager, Munas Dabbur dan Hee-chan Hwang.

Oleh karena itu, Salzburg bisa dalam bahaya kehilangan pemain-pemain terbaik hingga akhir Agustus. Tetapi mereka juga berbagi kegagalan play-off Liga Champions. Sejak pengubahan nama dari Austria Salzburg menjadi Red Bull Salzburg, mereka gagal mencapai babak penyisihan grup Liga Champions.

Terakhir kali klub berbasis Salzburg mencapai babak penyisihan grup Liga Champions pada 1994/95 ketika Austria “Casino” Salzburg berakhir di urutan ketiga dalam grup yang termasuk AEK Athens, Milan, dan Ajax. Kali ini Salzburg berharap perjalanan di Liga Champions lebih suskes.

 

Crvena Zvezda (4-2-3-1): Borjan, Rodić, Degenek, Savić, Stojković, Jovančić, Krstičić, Radonjić, Simić, El Fardou Ben, Stojiliković.

Salzburg (4-2-3-1): Stanković, Ulmer, Ramalho, Pongračić, Lainer, Schlager, Samassékou, Haidara, Junuzović, Dabbur, Yabo.

Comments