Laga big match Liga Primer Inggris antara Liverpool dan Manchester City berakhir anti klimaks setelah kedua tim elit tersebut hanya mampu bermain imbang 0-0. Riyad Mahrez menjadi pesakitan karena gagal mengeksekusi penalti di pertengahan babak kedua.

Baik Liverpool maupun City sebelumnya belum pernah menelan kekalahan di musim ini dan hadir dengan catatan pertahanan yang mengesankan. Solidnya lini belakang kedua tim tersebut pun berandil besar dalam nihilnya gol pada laga yang berlangsung di Anfield tersebut.

Liverpool langsung bermain menekan sejak menit awal lewat pola gegenpressing andalan Klopp, namun Guardiola juga telah menginstruksikan anak asuhnya untuk memperkuat pertahanan dan menyerap gelombang demi gelombang serangan yang dilancarkan The Reds. Di babak kedua, giliran tim tamu menekan lewat skema counter-attack yang merepotkan barisan pertahanan Liverpool. City pun akhirnya mendapat peluang emas dari titik putih setelah Leroy Sane dijatuhkan oleh Virgil Van Dijk di kotak penalti. Riyad Mahrez maju sebagai eksekutor namun sayang tendangan pemain debutan eks Leicester City tersebut malah melambung tinggi. Skor kacamata pun bertahan hingga laga usai.

Advertisement

Sejumlah pengamat menilai bahwa para punggawa Liverpool mengalami kelelahan setelah digempur jadwal super-padat menghadapi lawan-lawan berat sebelumnya tanpa jeda; yakni PSG dan Chelsea (dua kali). Taktik pressing kilat yang diterapkan Jurgen Klopp memang menuntut para pemain untuk memiliki stamina, konsentrasi serta kemampuan fisik ekstra untuk melakukannya secara konstan selama 90 menit.  Untungnya, Liverpool bisa sedikit ‘bernafas’ selepas jeda internasional. Tim kebanggaan Merseyside itu ‘hanya’ akan bertandang ke markas Huddersfield, yang sejauh ini masih berjibaku di papan bawah. Klopp pun bisa dengan tenang melakukan rotasi dan memasang banyak pemain cadangannya, terutama Fabinho yang belum pernah dimainkan sama sekali sejak ditebus dari AS Monaco dengan banderol cukup ‘wah’.

Advertisement
Comments