Selama karirnya yang cemerlang, Fabio Quagliarella memiliki satu impian masa kecil yakni bisa bermain bersama Napoli. Meski mimpi tersebut akhirnya terwujud, karir Quagliarella di klub tersebut berlangsung amat singkat. Pasalnya ia kerap mendapat teror saat membela kesebelasan asal Naples tersebut. Seperti apa kisahnya?

Berbicara kepada harian Independent bulan lalu, Quagliarella menceritakan ‘masa kelam’ dalam karirnya ketika membela Napoli. Setelah satu dekade yang cemerlang dan tengah bersinar cemerlang di Udinese, Napoli membuka pintu bagi Quagliarella di tahun 2009 dan ia pun tak mampu berkata tidak.

“Saya selalu berkhayal menjadi kapten Napoli; memenangkan sesuatu bersama mereka karena mereka menjadi tim sebagus mereka sekarang, sebuah tim yang hebat” tutur Quagliarella membuka percakapan.

Kemudian, Quagliarella juga mengungkapkan menegnai hal-hal non-teknis yang membuatnya terpaksa meninggalkan klub kesayangannya. “Jika hal-hal ini tidak terjadi, saya yakin saya masih akan bermain di sana saat ini” lanjutnya getir.

Rupanya kehidupan Quagliarella di Naples tidak tenang. Selama lima musim di Napoli, ia kerap dibayangi oleh seorang penguntit. “Seorang stalker menyiksa saya selama lima tahun lebih” bebernya.

Penguntit itu bernama Raffaele Piccolo, seorang anggota kepolisian yang rupanya sangat terobsesi dengan Quagliarella hingga nyaris menghancurkan hidupnya. “Segalanya bermula saat paspor saya bermasalah dan ia membereskannya” papar Quagliarella. “Kemudian saya mulai menerima surat-surat tak bernama dengan gambar wanita telanjang yang isinya menuduh saya sebagai pedofil, bekerja dengan Camorra (mafia), berjualan obat terlarang, mengatur skor” tuturnya kemudian.

Tak hanya sampai disitu, Piccolo juga meneror ayah Quagliarella dan mengirim surat yang sama kepada pihak klub, padahal saat itu, sang pemain sangat percaya kepada Piccolo dan selalu mengadu kepadanya ketika teror-teror tersebut datang.

“Sang penguntit, sebagai aparat kepolisian, secara rutin berada di rumah saya dan dialah ternyata dalang di belakang semua ini. Dia meminta kami untuk mengambil sidik jari sejumlah orang, dan terus mengatakan ‘kita sudah dekat, sedikit lagi’..” kata Quagliarella.

Semua akhirnya terungkap setelah sahabat Quagliarella dipanggil pihak berwenang untuk ditanya mengenai koneksi kepada mafia. “Karib saya, Giulio, dipanggil polisi untuk dimintai keterangan mengenai hubungan saya dengan Camorra. Pada akhirnya, ayah saya menyadari bahwa pihak berwajib tak pernah menerima keluhan resmi saya, karena sang penguntit menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri”

Piccollo pun akhirnya dibekuk dan harus mendekam di penjara selama empat tahun, namun perbuatannya tersebut kadung berdampak banyak pada karir Quagliarella, yang akhirnya dijual pihak klub tanpa sepengetahuannya. “Sebelum pertandingan tandang ke Swedia, mereka (pihak klub) memanggil saya dan mengatakan saya tidak akan bermain karena saya sudah dijual ke Juventus. Itu adalah pertama kalinya saya mendengar berita tersebut” ungkap Quagliarella.

Pada saat itu, kepindahan Quagliarella ke klub rival bebuyutan Juventus memang menyisakan kepahitan di kalangan fans Napoli, yang sebagian sampai menjulukinya ‘pengkhianat’.

“Orang-orang menuduh saya meninggalkan Napoli karena uang, tapi hal itu tidak benar dan sangat mengganggu keluarga saya. Setelahnya, saya berusaha keras menunjukkan betapa saya mencintai Napoli dengan gestur-gestur kecil, seperti saat saya menolak merayakan gol yang saya cetak (ke Napoli) kala berseragam Torino. Akankah saya kembali ke Napoli? Akan sangat luar biasa bagi saya bila para fans masih memikirkan saya. Saya meninggalkan urusan yang belum selesai disana” curah Quagliarella.

Pada hari minggu silam, ultras Napoli membentangkan spanduk besar kala Napoli berhadapan dengan Crotone. Dalam isi spanduk tertulis “Kau telah melalui kehidupan neraka dengan penuh kehormatan, kami akan menyambutmu lagi, Fabio, anak dari kota ini”

Rupanya para suporter menyambut rasa cinta Quagliarella, dan kini pria berusia 34 tahun itu pun bisa kembali ke Naples dengan kepala tegak dan hati penuh kelegaan.

Comments