‘Umpan membelah benua!’, ‘Messi kelok sembilan!’, ‘Prahara rumah tangga!’, mungkin belakangan anda cukup familiar dengan istilah-istilah yang dipopulerkan komentator Valentino Simanjuntak di televisi nasional kita. Meski bertujuan untuk menghibur, namun penggunaan jargon tersebut mendapat kritik keras darieks-pelatih Persib,, Emral Abus. Pria gaek itu menghimbau agar sebaiknya memakai istilah sepakbola baku yang memberikan edukasi bagi para pemirsanya.

“Mana ada itu istlah umpan antar benua, umpan membelah lautan, yang ada itu long passing, short passing, medium passing. Pekerja media harusnya paham juga karena peran mereka kan memberi edukasi” cetus Emral dalam sebuah sesi wawancara. “Hindarilah bahasa-bahasa yang membingungkan” tukasnya kemudian.

Lebih lanjut, pria yang saat ini menjabat sebagai instruktur pelatih PSSI tersebut juga mengutarakan harapannya agar media turut andil dalam membantu mengembangkan pemahaman sepakbola kepada masyarakat awam. Hal itu dinilainya amat penting untuk merangsang kemajuan olahraga tersebut di Tanah Air, untuk pada akhirnya membantu pertumbuhan bibit-bibit muda baru yang akan mengharumkan sepakbola Indonesia di masa mendatang.

Belakangan, sepakbola Indonesia memang tengah mengalami perkembangan, bukan hanya di lapangan, melainkan juga aspek-aspek pendukungnya. Sejumlah komentator tanah air mengemas perkataan mereka kala mengomentari jalannya laga dengan istilah-istilah ‘nyeleneh’ yang seru; mulai dari ‘ahayyy’, ‘jebret’, hingga beberapa kalimat di atas yang sebenarnya jauh konteksnya dari sepakbola. Hal ini pun tak pelak menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengamat serta penikmat sepakbola; banyak yang menyukai, tak sedikit pula yang membenci karena dianggap ‘lebay’ dan tak mendidik.

Bagaimana dengan anda? Setujukah dengan pendapat bung Emral di atas?

 

Comments