AC Milan tak butuh waktu lama untuk menunjuk juru taktik baru setelah melepas Vincenzo Montella dari jabatannya. Secara mengejutkan, Rossoneri mendapuk Gennaro Gattuso sebagai allenatore baru. Sejumlah pengamat dan media pun bingung dengan pilihan tersebut, pasalnya rekam jejak ‘Si Badak’ sebagai pelatih sejauh ini justru belum cukup meyakinkan.

Semasa bermain, Gattuso memang dikenal sebagai sosok kunci di tim AC Milan era Carlo Ancelotti yang memenangkan banyak gelar prestisius. Permainannya yang keras, tegas dan tak kompromi mampu menjadi ‘karang’ yang kokoh bagi para kreator dan ujung tombak fantastis seperti Seedorf, Kaka, Shevchenko dan Andrea Pirlo untuk meneror benteng pertahanan lawan. Namun jago sebagai pemain belum tentu handal sebagai pelatih, dan untuk kasus Gattuso, hal tersebut jelas terlihat dari sepak terjangnya selama melatih klub sejauh ini.

Di FC Sion, klub terakhir yang dibelanya sebagai pemain, Gattuso sempat ditunjuk sebagai pelatih, namun dicopot hanya setelah tiga bulan, tepatnya saat klub Swiss tersebut dibantai FC St. Gallen dengan skor telak 5-0. Dua bulan kemudian Gattuso kembali ke Italia untuk memenuhi panggilan sebagai nahkoda Palermo di Serie B, namun diberhentikan juga setelah hanya mampu meraih dua kemenangan di enam laga. Setelahnya, Gattuso menjajal peruntungan di Liga Yunani bersama OFI Crete, dan juga berhenti dari sana dalam hitungan bulan. Pada Agustus 2015, Gattuso  ditunjuk oleh klub Serie B lainnya, Pisa, namun alih-alih mempersembahkan trofi, Gattuso malah membawa Pisa turun ke kasta C di akhir musim. Pria berusia 39 tahun itu pun akhirnya kembali ke klub yang membesarkan namanya, AC Milan sebagai pelatih tim Primavera sebelum ditunjuk menggantikan Montella pada hari Senin (27/11) kemarin.

Melihat rekam jejak di atas, maka jelaslah mengapa banyak pihak yang mengernyit keheranan dengan keputusan AC Milan, terlebih melihat bahwa Gattuso adalah sosok pelatih ketujuh yang memimpin klub tersebut selama tiga musim terakhir.

Mungkinkah Gattuso telah belajar dari kegagalan-kegagalan terdahulunya untuk membawa klub yang dicintainya  kembali merajai kancah Eropa? Bagaimana menurut kamu?

Comments