Meski liganya sendiri tak setenar sejumlah kompetisi elit Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol atau Italia, Bundesliga Jerman telah lama dikenal sebagai salah satu penghasil pemain-pemain papan atas yang merajai Benua Biru. Tak jarang juga para punggawa belia ini pada akhirnya dipinang klub-klub raksasa dan menjadi salah satu pemain paling dikenal di seantero dunia. Berikut Bolazola rangkumkan 12 nama pemain muda potensial Liga Jerman saat ini.

12. Nordi Mukiele (RB Leipzig)

Cukup mengejutkan bahwa kepindahan Nordi Mukiele ke Leipzig dengan banderol 16 juta Euro dari Montpellier tidak disadari oleh sebagian besar fans liga Jerman. Pemain berusia 20 tahun tersebut kini telah tiga kali membela ‘Si Banteng Merah’, terakhir dibuatnya sebagai bek sentral kendati berposisi alami sebagai full back. Kemampuan multifungsi Mukiele akan terus terasah dan bisa jadi satu keunggulan Leipzig di masa mendatang, terlebih ia saat ini tengah dibimbing pelatih bertangan dingin sekaliber Ralf Rangnick dan menjalin kerjasama dengan bintang muda lainnya, Dayot Upomecano dalam menggalang pertahanan.

 

11. Hamza Mendyl (Schalke 04)

Satu lagi pemain berposisi sebagai full back di daftar ini, Hamza Mendyl bahkan digadang-gadang sejumlah pengamat bisa menjadi pemain yang diperhitungkan di kancah Eropa dan bukan hanya Bundesliga musim ini. Mendyl mengikuti jejak Benjamin Pavard, yang juga meninggalkan klub Prancis LOSC Lille untuk hijrah dan menjadi besar di Jerman. Di Schalke, pemain berdarah Maroko tersebut akan diasuh secara langsung oleh Domenico Tedesco, pelatih hebat yang kiprahnya berada di bawah bayang-bayang hype yang melingkupi bos muda Hoffenheim, Julian Nagelsmann.

 

10. Pablo Maffeo (Vfb Stuttgart)

Sepertinya dunia sepakbola tidak akan kekurangan stok bek sayap jagoan di masa mendatang, menilik di dalam daftar ini saja sejauh ini sudah ada tiga punggawa muda tangguh yang berposisi sebagai full back. Pablo Maffeo angkat nama musim lalu setelah berhasil ‘mengantongi’ dua megabintang sepakbola dunia; yakni Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di kesempatan berbeda kala membela Manchester City. Ia secara mengejutkan kemudian hijrah ke Stuttgart dengan banderol 9 juta Euro dan jauh dari hingar bingar sorotan media. Di kancah internasional, Maffeo moncer bersama timnas Spanyol U-21 dan mampu menunjukkan penampilan gentas baik di posisi alaminya sebagai bek kanan maupun lebih maju ke depan sebagai gelandang sentral.

 

9. Paulinho (Bayer Leverkusen)

Bagi mereka yang rajin mengikuti bursa transfer Bundesliga, tentunya sudah mengenal nama pemain belia Paulinho, yang digaet Leverkusen dari Vasco da Gama dengan mahar 18 juta Euro. Remaja berusia 18 tahun ini merupakan salah satu dari segelintir wonderkid Amerika Latin yang menjajal karir di Eropa pada usia sangat muda. Di Bayer, Paulinho akan bersaing memperebutkan satu slot di sentra lapangan dengan nama-nama kaliber lain seperti Leon Bailey dan Julian Brandt. Jika berhasil melakukannya, maka tak ada alasan bagi pelatih timnas Brasil, Tite untuk tidak mengikutsertakannya di laga-laga tim Samba mendatang.

 

8. Waldemar Anton (Hannover 96)

Sebagai bek tengah satu-satunya dalam daftar ini, Waldemar Anton menjadi pemain yang menarik untuk diikuti kiprahnya, khususnya bagi mereka penggemar ball playing defender setipe Gerard Pique. Di usia yang baru menginjak 22 tahun, Anton juga telah dipercaya menjadi kapten tim utama. Pemain Jerman U-21 kelahiran Uzbekistan ini dikenal berani memainkan bola dari titik terdalam dan membelah barisan pertahanan lawan dengan umpan-umpan terobosan nan akurat.

 

7. Denis Zakaria (Borussia Moenchengladbach)

Pemain muda biasanya belum memiliki fisik yang cukup mumpuni untuk bersaing di level tertinggi sepakbola Eropa, namun tidak bagi Denis Zakaria. Pemain asal Swiss berusia 21 tahun tersebut dikenal memiliki ketahanan fisik luar biasa yang bisa membuatnya langsung cocok di klub dengan liga domestik bertipe keras seperti Liga Primer Inggris. Zakaria didatangkan oleh Moenchengladbach tahun 2017 silam dengan harga 12 juta Euro dan membuat total 33 penampilan di semua kompetisi, termasuk dua kali di Piala Dunia Rusia bersama timnas Swiss. Tubuhnya yang atletis dan postur sempurna membuat fans Moenchengladbach serta merta menjulukinya sebagai ‘Patrick Vieira Baru’, dan ia hingga saat ini masih menjadi salah satu dinamo lini tengah klub yang bermarkas di Borussia-Park tersebut.

Advertisement

 

6. Santiago Ascacibar (Vfb Stuttgart)

Seperti halnya Zakaria, Santiago Ascacibar pun telah menahbiskan dirinya sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik tahun ini. Kendati hanya memiliki tinggi badan 168 cm, pemain berusia 21 tahun ini telah menjadi salah satu favorit pendukung Stuttgart dengan alasan yang sama sekali berbeda. Kepiawaian Ascacibar melakukan tekel pun telah membuatnya dipanggil memperkuat Argentina oleh pelatih Jorge Sampaoli di Piala Dunia Rusia silam. Ascacibar tidak butuh waktu lama untuk memenangkan hati para penikmat sepakbola dengan determinasi dan keberanian khas Amerika Selatannya, yang telah meninggalkan bekas tanda yang nyata, bukan hanya di kaki para pemain lawan yang pernah berhadapan dengannya.

 

5. Michael Gregoritsch (FC Augsburg)

Di usia yang baru menginjak 24 tahun, Michael Gregoritsch bahkan belum mencapai periode prima seorang pemain sepakbola. Musim lalu, ia dimainkan sebagai penyerang bayangan ‘Nomer 10’ di belakang ujung tombak utama Alfred Finnbogason. Dengan peran tersebut, wajar jika ia ‘hanya’ akan dianggap sebagai playmaker, terlebih melihat empat assist yang dipersembahkannya pada musim debut di Augsburg dua tahun silam. Nyatanya, Gregoritsch malah makin bersinar dan menggelontor total 13 gol di putaran kompetisi 2017/2018 tersebut, yang membuat punggawa asal Austria itu menempati posisi 6 di daftar top skorer Bundesliga bersama wonderkid Leipzig, Timo Werner. Jika terus menampilkan ketajamannya, bukan tidak mungkin nama  Gregoritsch akan segera tercetak di kostum tim-tim besar Eropa dari liga raksasa lainnya di masa mendatang.

 

4. Amine Harit (Schalke 04)

Pemenang Rookie Award Bundesliga musim lalu, nama Amine Harit tentu sudah mulai menjadi buah bibir di kalangan pencinta sepakbola belakangan ini. Dengan gelar tersebut, ia sudah melampaui pencapaian pemain potensial lainnya di Liga Jerman, seperti bintang Prancis di Piala Dunia Rusia, Benjamin Pavard, atau pemain U-19 Inggris paling bersinar, Jadon Sancho. Dengan kemampuan bermain di belakang striker atau sayap, teknik dribel pemain nasional Maroko itu disebut-sebut menyamai pemain bintang seperti Riyad Mahrez dan Samir Nasri.

 

3. Josip Brekalo (Vfl Wolfsburg)

Telah digadang-gadang akan menjadi pemain besar sejak beberapa tahun terakhir, Josip Brekalo merupakan salah satu punggawa andalan Vfl Wolfsburg yang siap untuk mengangkasa di Eropa. Pemain yang secara alami berposisi sebagai sayap kiri ini juga handal bermain lebih ke tengah dan mengkreasi serangan dengan kecepata serta manuvernya yang berbahaya. Pemain U-21 Kroasia ini juga dikenal berani melepas tembakan-tembakan jarak jauh akurat yang tak jarang merepotkan kiper.

 

2. Jiri Pavlenka (SV Werder Bremen)

Pemain ‘tertua’ di daftar ini dengan usia 26 tahun, kisah sukses Jiri Pavlenka bisa dibilang cukup mirip dengan apa yang dibuat Martin Dubravka di Newcastle United. Datang dari antah berantah musim lalu, penjaga gawang asal Ceko itu malah menjadi salah satu sosok paling konsisten di Bremen. Kemampuannya mengamankan mistar gawang membuat tim asuhan pelatih pragmatis Florian Kohfeldt itu bisa lolos dari jeratan degradasi di akhir musim. Kini Bremen bisa mematok target tinggi untuk lolos ke kejuaraan Eropa musim depan dengan Jiri sebagai deputi utama mereka.

 

1. Kai Havertz (Bayer Leverkusen)

Ada harapan yang membumbung tinggi bahwa skuad muda yang diusung Bayer Leverkusen bisa menjadi penantang utama hegemoni Bayern Munchen di Bundesliga tahun ini, dan Kai Havertz merupakan salah satu andalan untuk mewujudkan hal tersebut. Meski namanya sendiri kalah pamor dari rekan-rekan belianya seperti Leon Bailey atau Julian Brandt, Kai menunjukkan konsistensi dan perkembangan, jauh dari lampu sorot media yang terkadang menyilaukan. Di usia yang belum menginjak 20, Havertz telah piawai memainkan peran sebagai metronom lini tengah dengan passing jitu, tendangan akurat dan kemampuan bermain dengan kedua kaki sama baiknya. Musim lalu, ia terlibat dalam 13 gol Bayer Leverkusen, termasuk tiga assist sekaligus dalam satu pertandingan kala Bayer menghabisi Moenchengladbach dengan skor 5-1. Kendati musim ini Bayer tidak berhasil lolos ke kancah Liga Champion, namun Havertz masih memiliki banyak waktu untuk mencapai ajang bergengsi tersebut sendiri; meski (mungkin) dengan mengenakan kostum tim lain.

Advertisement
Comments