Bagi seorang pesepakbola, bermain di klub sebesar Barcelona adalah pencapaian yang tak mudah sama sekali untuk digapai, bahkan bisa dianggap sebagai tujuan akhir dalam berkarir di lapangan hijau bagi beberapa pemain, tengok saja Lionel Messi, Anders Iniesta dan Carles Puyol yang menghabiskan sepanjang karir mereka untuk membela kostum Blaugrana. Namun kendati tiga nama di atas berhasil mempertahankan diri di tim utama karena memang memiliki kemampuan di atas istimewa, ada banyak juga pebola lain yang akhirnya harus terdepak dari Barca, dan nyatanya mampu juga meraih kesuksesan di kancah Eropa. Berikut kami jabarkan sebelas di antaranya dalam format 4-3-3.

Kiper : Pepe Reina

Mari kita mulai dengan nama yang akan menghangatkan hati para penggemar Liverpool. Kendati didatangkan The Reds dari Villareal, sejatinya Pepe Reina memulai karirnya di Barcelona, dan membuat debutnya di usia 18 tahun serta membukukan total 49 penampilan. Kedatangan Robert Enke ke Barcelona membuat Reina kehilangan tempat dan kemudian menghabiskan tiga musim yang sukses bersama Villareal dan turut membawa Kapal Selam Kuning lolos ke babak kualifikasi Liga Champion untuk pertama kalinya. Kemudian di Liverpool, Reina menjadi andalan selama 8 musim dan tercatat sebagai kiper dengan rekor nirbobol (clean sheet) terbanyak keenam di Liga Primer Inggris dengan angka 134. Mengesankan!

 

Bek Kanan : Dani Alves

Sebetulnya kurang tepat memasukkan nama Dani Alves dalam daftar ini mengingat gelimang penghargaan yang telah direngkuhnya selama merumput di klub tersebut. Namun, usut punya usut alasan utama hengkangnya Alves adalah ketidakpuasannya dengan manajemen Barcelona yang disebutnya kurang menghargai hasil usahanya selama ia berada disana. Setelahnya, Alves kembali cemeralng di Juventus dan membantu klub asal Turin tersebut kembali memperoleh gelar Serie A musim lalu, sekaligus menghempaskan mantan klubnya, Barcelona di babak penyisihan Liga Champion. Alves kini berlabuh di Paris bersama PSG dan kita lihat apakah ia mampu menutup tirai karirnya dengan prestasi.

 

Bek Kiri : Maxwell

Seorang profesional sejati, Maxwell adalah ‘pelayan’ yang kurang mendapat penghargaan di era sepakbola modern. Di sepanjang 17 tahun karirnya yang sebagian besar dihabiskan di Eropa, pemain asal Brasil itu sudah bermain di total 549 pertandingan dan mengumpulkan tak kurang dari 31 trofi, menjadikan pemain yang baru pensiun di bulan Mei silam itu sebagai pemain paling berprestasi di Eropa. Salah satu klub yang pernah disinggahi Maxwell adalah Barcelona di tahun 2009 hingga 2012 silam, dimana ia sempat mendapat kepercayaan penuh pelatih pep Guardiola di dua musim pertamanya berseragam Blaugrana dengan diturunkan sebanyak 25 kali per musim, namun di tahun ketiga, peruntungannya mulai berubah sejak kedatangan Adriano dari Sevilla. Maxwell kemudian berkarir di Prancis bersama PSG dan melalui enam musim gemilang dengan empat gelar liga, sepuluh piala kompetisi dan dinobatkan sebagai bagian dari tim terbaik Ligue 1 selama empat tahun berturut-turut.

 

Bek Tengah : Marc Bartra

Kendati terbilang paling sedikit memiliki gelar dibanding pemain lain di daftar ini, Marc Bartra tetaplah seorang bek tangguh. Selama tujuh tahun di Barcelona, didikan asli akademi La Masia itu tak kunjung mampu menembus tim utama dan hanya mengumpulkan rata-rata waktu bermain 20 kali setiap musimnya (dan mengumpulkan 13 medali dalam prosesnya). Pemain berusia 26 tahun itu pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan kiprahnya di Bundesliga Jerman bersama Borussia Dortmund. Di tahun pertamanya, Bartra langsung menjadi kesayangan fans Dortmund karena perilakunya yang menyenangkan, dan dia juga membantu tim memenangkan Piala DFB Pokal. Lumayan bukan?

 

Bek Tengah : Fernando Couto

Diboyong ke Barcelona oleh almarhum Sir Bobby Robson, Fernando Couto bermain sebanyak 35 kali di musim perdananya dan menjalin hubungan yang sehat dengan pelatih asal Inggris tersebut. Namun ketika Louis Van Gaal menggantikan posisi Robson di tahun 1997, palang pintu asal Portugal itu perlahan tersisih dan akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Serie A bersama Lazio. Keputusan tersebut terbukti jitu dan Couto menjelma menjadi salah satu bek tertangguh di Eropa dan mempersembahkan tujuh trofi selama tujuh musim di Lazio, termasuk gelar juara Serie A di musim 1999/2000. Kendati sempat terganjal kasus kegagalan tes obat terlarang di tahun 2001, Couto terus berkiprah di Serie A selama tujuh musim berikutnya bersama Lazio dan kemudian Parma. Di tingkat nasional pun karirnya moncer, dan ia sempat didapuk sebagai kapten Portugal kala menjadi tuan rumah di ajang Euro 2004 silam.

 

Gelandang Tengah (Box to Box) : Yaya Toure

Kehebatan seorang Yaya Toure tidak hanya bisa diukur melalui karirnya di Manchester City sebagai gelandang penjelajah yang tak kenal lelah. Kala masih berkarir di Barcelona, pemain Pantai Gading itu membantu timnya merengkuh gelar Liga Champion nan prestisius di tahun 2009 setelah tampil gemilang di partai final kontra Manchester United sebagai bek tengah. Ketangguhan fisik Toure dibuktikan dengan mengemban peran tersebut selama 117 kali bermain untuk Barcelona, baru kemudian di City ia digeser ke sektor tengah dan menampilkan tehnik serta visinya yang istimewa. Saat ini, Yaya Toure dianggap banyak kalangan sebagai pemain terbaik Manchester City dan salh satu yang terhebat di Liga Primer Inggris era modern.

 

Gelandang Tengah (Deep Playmaker) : Cesc Fabregas

Meninggalkan akademi muda Barcelona di tahun 2003 demi perkembangan karirnya, Cesc Fabregas berlabuh di Arsenal dan langsung mencuat sebagai pemain inti di usia 17 tahun. Selanjutnya, ia menjadi poros utama di area tengah dengan visi, kemampuan passing serta akurasi tendangannya. Fabregas mengakhiri karir di Emirates Stadium sebagai kapten tim asuhan Arsene Wenger tersebut dan sudah turun di 303 pertandingan. Setelah itu ia kembali menerima pinangan Barcelona dan bermain sebanyak 151 kali serta memenangkan enam trofi bersama klub masa kecilnya. Namun, saat Guardiola hengkang, Fabregas menjadi ‘kambing hitam’ di mata fans Barca dan ia pun dijual ke tim London lainnya, Chelsea dan diprediksi akan mengakhiri karir sebagai pemain semenjana. Ramalan itu terbukti salah, dan Fabregas masih menjadi andalan The Blues hingga saat ini dan kini, di usia 30 tahun, ia telah menambahkan dua gelar Liga Primer Inggris ke koleksinya. Class is permanent!

 

Gelandang Tengah (Playmaker) : Juan Roman Riquelme

Mesias para hipster sepakbola, Juan Roman Riquelme adalah pemain unik yang jarang ditemui di lapangan hijau era modern. Namun sayangnya, selama semusim berkarir di Barcelona, nomor 10 klasik asal Argentina itu gagal menunjukkan sinar cemerlangnya karena tidak cocok dengan skema pelatih Louis Van Gaal yang menuntut setiap pemain untuk rajin bergerak mencari bola. Ini, seperti yang dibuktikan setelahnya, bukanlah gaya bermain Riquelme yang lebih suka mengalirkan bola dengan passing-passing jitu serta teknik kaki yang impresif. Di Villareal lah Riquelme menjelma menjadi sosok ikonik yang tak lekang waktu, dan musim 2005/2006 menjadi momen terbaiknya saat ia mencetak 15 dari total 35 gol tim Spanyol itu dan dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Dunia. Setelahnya, Riquelme pulang kampung untuk membela klub yang membesarkan namanya, Boca Junior dan berhasil memenangkan gelar Copa Libertadores ketiga sepanjang karirnya, sebelum pensiun sebagai legenda.

 

Penyerang (Kiri) : Alexis Sanchez

Melihat statusnya saat ini di Arsenal, sulit membayangkan Alexis Sanchez sebagai ‘pemain yang tak diinginkan’ Namun itulah yang terjadi di musim ketiganya bersama Barcelona. Sanchez yang enggan menjadi pilihan ketiga di belakang pemain muda Munir El Haddadi setelah menorehkan 47 gol dan enam trofi, memutuskan untuk mengakhiri kerjasamanya dengan Barcelona dan hijrah ke Arsenal. Harga jualnya yang berada di kisaran 31 juta Euro saat ini menjadi terlihat murah melihat penampilannya di lapangan mengobrak-abrik pertahanan tim-tim liga Primer Inggris yang dikenal tangguh. 72 gol dari 145 pertandingan tentunya bukanlah angka ‘biasa’ untuk pemain yang berposisi sebagai penyusur sayap. Kendati hingga saat ini masa depan Alexis Sanchez di Arsenal belum jua dapat dipastikan, namun kemanapun ia pergi, percayalah bahwa pemain asal Cili itu akan dapat memberikan performa gentas bagi tim yang dibelanya.

 

Penyerang (Kanan) : Zlatan Ibrahimovic

“Kau membeli Ferrari tapi mengendarainya seperti Fiat” adalah ungkapan tersohor Zlatan Ibrahimovic yang ditujukannya kepada mantan pelatih Barcelona, Pep Guardiola. Jika melihat bagaimana perjalanan karir Ibra saat ini, bisa jadi perkataan legenda Swedia tersebut memang benar adanya. Semasa membela Barcelona, Ibra tak pernah kesulitan mencetak gol, namun Guardiola lebih memilih pemain penurut yang bisa bermain sebagai kesatuan tim (dengan Lionel Messi sebagai porosnya). Meski Zlatan mencoba beradaptasi dengan sikapnya, Guardiola sudah terlanjur tak menyukainya sehingga ia pun dilepas ke AC Milan. Setelahnya? Gol, trofi, dan status ‘ikonik’ tersemat dalam diri seorang Zlatan Ibrahimovic dan membuatnya dianggap sebagai salah satu figur terbesar dan paling dihormati di era sepakbola modern.

 

Penyerang (Tengah) : Luiz Ronaldo

Luiz Ronaldo hanya bermain di Barcelona dalam waktu singkat, namun meninggalkan kesan yang amat manis. Setelah pindah dari unit Belanda PSV Eindhoven, Ronaldo menunjukkan kelasnya dengan mencetak 47 gol dari 49 pertandingan di bawah tuntunan pelatih Sir Bobby Robson dan membantu klub Catalan tersebut memenangkan Copa Del Rey serta menjadi pebola termuda yang pernah memenangkan gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA di usia 20 tahun. Setelah masa-masa di Camp Nou, Ronaldo menjadi salah satu striker terbaik dunia kala membela Internazionale Milan, Real Madrid dan AC Milan sebelum menghabiskan sisa karirnya di Brasil bersama Corinthians. Semasa berkiprah di lapangan hijau, Ronaldo mengumpulkan total 382 gol dari 518 pertandingan serta 14 trofi. Penampilannya di Piala Dunia 2002 kala membawa Brasil keluar sebagai juara juga disebut sebagai salah satu pertunjukan sepakbola terbaik sepanjang masa.

 

Comments