Antonio Conte

Manajer Chelsea Antonio Conte mengatakan bahwa dia harus membuat beberapa keputusan sulit saat para pemainnya melakukan kesalahan, juga mengatakan kepada situs klub bahwa dia senang dia tidak memulai karir manajerialnya dan sampai di puncak dengan cepat dan tiba-tiba.

Conte yang sempat membesut Juventus dan Timnas Italia tiba di Stamford Bridge pada 2016 dan meraih gelar di musim pertamanya. Musim ini perjalanan Chelsea mempertahankan gelar menemui jalan terjal. The blues telah menelan empat kekalahan dari 19 pertandingan, ditambah dengan capaian luar biasa Manchester City yang meninggalkan anak asuhnya dengan selisih 16 poin.

Manajer asal Italia itu harus menghadapi beberapa situasi sulit, terutama saat berseteru dengan pemain belakang David Luiz, namun manajer tersebut menegaskan bahwa ia telah belajar banyak dari karir bermainnya sendiri. Semasa bermain, Conte dikenal sebagai gelandang petarung.

“Sebagai pemain, saya sangat beruntung memiliki begitu banyak manajer bagus dalam karir saya. Saya ingat dua yang pertama di Lecce: Eugenio Fascetti dan Carlo Mazzone. Mereka sangat penting bagi saya dan pertumbuhan saya,” kata Conte dikutip ESPN FC.

Conte memang mengawali karir di Lecce, meskipun ia lebih dikenal sebagai legenda Juventus berkat pengabdian panjangnya bersama Si Nyonya Tua. Ia menggambarkan perumpaan wortel dan tongkat untuk menceritakan hukuman maupun penghargaan kala menangani anak asuhnya.

“Mereka menggunakan wortel dan tongkatnya bersama saya, saya membawa jenis manajemen ini untuk saya gunakan dengan pemain saya. Terkadang Anda harus menggunakan tongkat itu, dan terkadang Anda harus menggunakan wortel.

“Saya lebih memilih untuk menggunakan wortel. Tapi kadang-kadang itu adalah suatu keharusan untuk menjadi kuat. Ketika seseorang membuat kesalahan, adalah benar untuk menggarisbawahi situasi seperti ini, dan menemukan solusi terbaik untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan,” kata Conte.

Comments