Nama keluarga Maldini, yang identik dengan sosok tersohor di kota Milano, Italia, dan sepak bola dunia yang lebih luas, tidak dapat dianggap lebih tinggi hari ini.

Pertama, Cesare, lahir di kota Trieste di timur laut Italia, melahirkan apa yang akan menjadi sebuah dinasti di Calcio lore selamanya, mengumpulkan lebih dari 300 penampilan untuk AC Milan sebagai bek periode 1954-1966 dan memenangkan empat gelar Serie A dan satu Piala Eropa/Liga Champions UEFA, di antara banyak lebih untuk mengisi lemari trofi. Bertahun-tahun setelah menutup tirai sebagai profesional, pria Italia itu melatih Rossoneri dengan memenangkan Piala Winners Eropa dan Coppa Italia pada 1972-1973 dan memimpin Azzurrini ke tiga Euro U-21 berturut-turut.

Di antara semua komitmen yang berbeda untuk olahraga, dia akan menyaksikan warisannya hidup melalui putra bungsunya, seorang legenda bernama Paolo Maldini yang luar biasa selama karirnya.

Tapi, mungkin lebih penting daripada menjadi yang terbanyak di Serie A sepanjang masa dalam hal penampilan, dan untuk satu klub dengan 647 penampilan untuk AC Milan, tujuh Scudetto, tujuh Piala Eropa/Liga Champions UEFA, lima Supercoppa Italiana dan empat Piala Super UEFA adalah berkay profesionalisme dan kemampuan.

Selama dua dekade mengawal lini pertahanan AC Milan, Paolo menjadi ayah bagi dua anak laki-laki Christian dan Daniel.

Suka atau tidak, yang terakhir sekarang menghadapi tantangan yang sulit untuk menjalani warisan dinasti di AC Milan.

Lahir pada tahun 2001, Daniel Maldini memiliki DNA merah-hitam yang tertanam sejak awal, sama seperti ayah dan kakeknya. Serupa dengan dua pendahulunya, bocah itu menunjukkan kemampuan tekel khas ayah dan kakeknya saat menghentikan bola dari kaki Clarence Seedorf dalam sebuah video yang beredar.

Namun, tidak seperti Cesare dan Paolo sebelumnya, perkembangan alami Daniel membawanya ke arah yang berbeda di atas lapangan. Seorang pemain depan yang mahir bermain dalam berbagai gelandang serang, talenta Italia U-19 paling cocok dalam peran playmaking di mana dia bisa menguasai bola untuk menciptakan ruang, menggiring bola dan mencetak gol, terbukti dalam 13 golnya untuk skuat U-17 di musim 2017-2018 dan 10 gol untuk tim U-19 di musim 2018-2019.

Advertisement

Di tim yang semakin kompetitif dengan kedalaman yang luar biasa, Daniel punya kesempatan. Sejak melakukan debut di tim senior pada Februari 2020 dari bangku cadangan vs Hellas Verona, dan Daniel tampil di berbagai pertandingan persahabatan musim panas dan cukup memusakan dalam beberapa menit di akhir pertandingan.

Setelah melakukan debutnya di Liga Champions UEFA awal bulan ini di Anfield melawan Liverpool, Stefano Pioli akhirnya memberikan pemain berusia 19 tahun itu untuk menjadi starter di Serie A melawan Spezia.

Sejak awal, Daniel menunjukkan beberapa kemampuan teknis yang baik, mampu menggiring bola dan maju ke depan untuk menciptakan peluang di sepertiga akhir. Sedikit pengalaman tampak, tetapi ada kepercayaan diri dan keinginan untuk membuat dampak. Sesaat setelah peluit babak kedua dibunyikan, saat Pierre Kalulu melepaskan umpan silang, Daniel pun menyambut dan mencetak gol.

Pioli menarik Daniel kira-kira 10 menit kemudian untuk Ismael Bennacer. Untungnya, masuknya Brahim dari bangku cadangan terbukti penting untuk mengubah permainan dan menyegel kemenangan 1-2.

“Saya sangat senang dengan gol itu, itu adalah emosi yang besar,” ungkap Daniel pasca-pertandingan. “Untungnya, kami membawa pulang tiga poin.”

Setelah pertandingan yang bagus, Daniel Maldini saat ini akan memiliki tantangan yang lebih besar dengan pertanyaan apakah dia mampu terus berkembang atau justru menghilang dengan keberadaan pemain-pemain besar di tim.

Advertisement
Comments