Fabio Capello dan Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengasah keterampilan menembak bola ke gawang setelah ia pertama kali masuk Juventus, menurut Fabio Capello.

Mantan kapten Swedia itu bergabung dengan Juve dari Ajax pada tahun 2004 dan menghabiskan dua musim di Turin sebelum pindah ke Inter menyusul skandal Calciopoli.

Capello, yang merupakan pelatih Bianconeri selama Ibrahimovic di klub yang sama, mengatakan bahwa dia ingin membawanya ke AS Roma dan merasa senang saat Juve menandatanganinya dengan biaya yang relatif rendah sebesar € 16 juta.

Namun, tampaknya striker Manchester United itu jauh dari anggapan banyak orang ketika pertama kali tiba di Serie A.

“Ketika Ibrahimovic tiba di Juventus, dia tidak pandai menembak bola,” kata Capello kepada Sky (3/1/2018).

“(Agen) Mino Raiola berkata kepada saya: ‘Zlatan benar-benar kuat, dia mematahkan tangan kiper’ dan saya berkata kepadanya: ‘Dengarkan saya, sejauh ini, dia hanya memecahkan jendela gym!’

“Kemudian Ibrahimovic mulai berlatih setiap hari untuk menendang dan jelas, seperti yang diketahui semua orang, dia meningkat pesat dan tahu apa yang harus dilakukannya untuk menjadi striker papan atas.

“Saya menargetkan Ibrahimovic saat saya menjadi pelatih Roma. Juventus melakukan pembelian yang luar biasa ketika mereka membelinya seharga € 16 juta, dibayarkan dalam empat kali pembayaran.

“Di Ajax, mereka memutuskan dia tidak akan menjadi pemain hebat, mereka lebih suka mempertahankan Mido yang lebih mudah dikelola. Tapi mungkin mereka menyesal dengan hasil akhirnya.”

Capello meninggalkan Juve pada tahun 2006 untuk melatih Real Madrid kedua kalinya dan merebut gelar La Liga di musim 2006-07.

Pria 71 tahun, yang sekarang melatih Jiangsu Suning di Liga Super China, mengatakan bahwa Ronaldo (mantan pemain Brasil) adalah pemain terbaik yang pernah dia latih dalam karirnya, namun dia menyesalkan apa yang terjadi di akhir karir mantan anak didiknya tersebut.

“Pemain terbaik yang saya latih adalah Ronaldo,” dia menambahkan. “Sayangnya, saya melihat sesuatu yang buruk di akhir karirnya, saat beratnya mencapai 96 kilogram.

“Saya bertanya kepadanya: ‘Berapa berat badan Anda di Piala Dunia 2002?’, dan dia mengatakan kepada saya bahwa beratnya 84 kilogram, kemudain saya menjawab: ‘Cobalah setidaknya untuk kembali ke 88’. Bagaimanapun, dia adalah pemain hebat.”

Comments