Saga transfer Gonzalo Higuain akhirnya terwujud setelah sang penyerang Juventus asal Argentina mendarat dengan status pinjaman ke Stamford Bridge. Seperti yang telah diprediksikan, ‘El Pipita’ mengenakan Nomor 9 yang selama ini dinilai sebagai angka ‘kutukan’ bagi para penyerang hebat yang sempat membela The Blues. Berikut Bolazola coba rangkumkan 13 punggawa yang pernah gagal dan sukses menyandang angka keramat tersebut di Chelsea. Mari kita simak bersama (dan doakan yang terbaik bagi Higuain)

13. Khalid Boulahrouz

Periode : 2006 – 2007

Mereka yang mengaku fans garis keras Chelsea pastinya tidak akan lupa dengan nama yang satu ini. Ya, kendati bukan berposisi sebagai penyerang Jose Mourinho mengijinkan Boulahrouz untuk mengenakan nomor punggung 9 kala ia didatangkan dari Hamburg dengan banderol 8,5 juta Pounds. Konon, keputusan tersebut ‘terpaksa’ diambil karena tidak ada nomor lain yang tersedia kala itu (?).

Boulahrouz kemudian sempat moncer dengan tipe permainan tanpa kompromi-menjurus-kasar yang membuatnya dijuluki ‘kanibal’. Sayang, penampilan ‘horor’ di laga versus Tottenham membuat Mou kemudian hilang kepercayaan terhadap sang palang pintu asal Belanda. The Special One lebih memilih Michael Essien untuk menempati sentra pertahanan bersama John Terry, dan tamatlah karir Boulahrouz bersama The Blues setelah dua pertandingan dan satu musim yang…aneh.

12. Radamel Falcao

Periode : 2015 – 2016

Menyusul masa peminjamannya dari AS Monaco pada tahun 2015, fans Chelsea mengernyitkan dahi ketika Falcao betul-betul diboyong klub London tersebut meski tidak berstatus permanen. Semasa berkarir di Prancis, Portugal, Spanyol dan Argentina, ‘Si Macan’ asal Kolombia itu memang bisa dibilang mesin gol jempolan, namun karirnya mulai kacau sejak dipinjam Manchester United hanya semusim sebelumnya.

Alhasil, Falcao hanya mampu mencetak sebiji gol dari 12 pertandingan dan langsung dipulangkan ke Monaco setelah semusim berkiprah bersama The Blues. Herannya, di klub Ligue 1 Prancis itu ia kini kembali bermain cemerlang dan rutin menjebol gawang lawan. Kesel ih..

11. Franco Di Santo

Periode : 2008-2009

Di Santo tiba di Chelsea dari klub Cili, Audax Italiano dengan menyandang predikat ‘wonderkid’ di usia 19 tahun, namun ia gagal total dan tak mampu mencetak satu gol pun kendati cukup sering dimainkan di skuad utama. Memang pemuda berdarah Argentina itu nyaris selalu diturunkan sebagai pengganti dari 16 penampilan bersama The Blues, namun tetap saja sebagai penyerang ia bisa dibilang gagal menjalankan perannya dengan baik.

Kala membela Wigan di tahun 2013, Di Santo memang pada akhirnya sempat mengenyam gelar Piala FA, kendati di partai final hanya menghuni bangku cadangan. Kini ia berkarir di Jerman bersama Schalke 04.

10. Chris Sutton

Periode : 1999-2000

Saat berkostum Blackburn Rovers, kualitas seorang Chris Sutton sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebanyak total 200 gol dicetaknya untuk klub tersebut yang mensejajarkan dirinya dengan penyerang legendaris Britania lainnya seperti Alan Shearer. Maka tak heran banyak pengamat yang berdecak kagum ketika Chelsea mampu menggaetnya dengan harga 10 juta Pounds.

Sayangnya, di Stamford Bridge, Sutton tak mampu memenuhi ekspektasi dan hanya mampu menggelontorkan 3 gol dari 39 pertandingan sebelum akhirnya hijrah ke Celtic. Di klub Skotlandia tersebut, Sutton menemukan kembali ketajamannya dan mengakhiri karir sebagai legenda. Hmm..

9. Mateja Kezman

Periode : 2004-2005

Setelah nyaris tak terhentikan di Liga Belanda bersama PSV, Chelsea mendapatkan jasa Kezman, yang kala itu berstatus sebagai salah satu striker terpanas Eropa ‘hanya’ dengan biaya 5 juta Pounds. Di musim debutnya, Kezman langsung meraih gelar Liga Primer Inggris meski hanya mencetak total 4 gol dan tidak berperan signifikan.

Hanya satu musim berselang, ujung tombak Serbia itu pun menerima pinangan klub Turki, Fenerbahce, dan menjadi journeyman yang sempat malang melintang hingga ke sejumlah tim Asia hingga gantung sepatu.

8. Steve Sidwell

Periode : 2007-2008

Pengguna nomor 9 kedua dan terakhir di daftar ini yang bukan berposisi sebagai penyerang. Steve Sidwell didatangkan ke Stamford Bridge sebagai pelapis utama Frank Lampard di lini tengah, namun yang mengherankan adalah kesediaan pihak klub untuk menyerahkan nomor ikonik tersebut pada si mantan bintang Reading.

Kendati demikian, Sidwell bisa dikatakan cukup sukses. Ia bermain sebanyak 25 kali dan mencetak satu gol selama satu musim sebelum hengkang ke Aston Villa demi jam terbang rutin yang lebih banyak. Tidak buruk untuk seorang pemain yang didatangkan dengan status free transfer kan?

7. Fernando Torres

Periode : 2011-2015

Jujur sajalah, Fernando Torres adalah pemain yang buruk di Chelsea. Sejak digaet dari Liverpool dengan banderol ‘wah’ 50 juta Pounds, striker Spanyol itu seperti kehilangan kemilaunya sama sekali dan membutuhkan waktu 903 menit sejak memulai debutnya untuk mencetak gol perdana bagi The Blues.

Cerita dukanya tidak berakhir di sana; selepas gol itu, Torres kembali ‘mejan’ di 23 pertandingan sepanjang musim 2011/2012 dan akhirnya pulang ke klub asalnya, Atletico Madrid, setelah hanya berhasil membukukan 20 gol dari 110 pertandingan.

Advertisement

Well, setidaknya suporter Chelsea masih bisa mengenang gol bersejarah ‘El Nino’ ke gawang Barcelona di kancah Liga Champion, bukan?

6. Tony Cascarino

Periode : 1992-1994

Salah satu pemain era 90’an awal (kala Chelsea masih berstatus klub papan tengah tanpa embel-embel ‘milik Taipan Rusia’), Tony Cascarino adalah pemain yang mendapat kehormatan untuk mengenakan nomor punggung 9 pertama kali di era modern.

Sayangnya, Cascarino tidak mampu menanggung beban angka keramat tersebut dan hanya mencetak total enam gol dari dua musim. Kontraknya kemudian tidak diperpanjang Chelsea untuk tahun ketiga sehingga pemain asal Republik Irlandia itu pun meneruskan karir di klub pesisir Selatan Prancis, Marseille.

5. Alvaro Morata

Periode : 2017-2018

Ekspektasi tinggi dibebankan di pundak Alvaro Morata kala pertama kali berhasil didatangkan dari Real Madrid dengan harga tak kurang dari 60 juta Pounds, dan ia pun pada mulanya tampil gemilang dan sepertinya mampu mendobrak ‘kutukan’ nomor 9 Chelsea dengan torehan delapan gol dan empat assist dari 11 laga perdananya. Sayangnya, ‘bulan madu; tersebut tidak bertahan lama..

Morata pada akhirnya hanya mampu mencetak 24 gol dari 72 pertandingan dan diijinkan untuk bergabung ke Atletico Madrid dengan status pinjaman (dan opsi pembelian) hingga akhir musim ini. Meski masih berstatus sebagai punggawa Chelsea, namun sepertinya hanya tinggal menunggu waktu hingga sang pemain Spanyol benar-benar angkat kaki dari Stamford Bridge.

4. Hernan Crespo

Periode : 2003-2006

Dikenal sebagai salah satu striker tertajam di Eropa bersama Parma dan Internazionale Milan, Hernan Crespo menyedot perhatian publik kala sepakat untuk hijrah ke Chelsea di tahun 2003. Bersama The Blues, Crespo pun membuktikan bahwa ia memang seorang ujung tombak jempolan dan mencetak 10 gol dari 19 laga di musim debutnya.

Di putaran kompetisi 2004/2005, pelatih Jose Mourinho mendatangkan seorang penggedor ‘antah berantah’ bernama Didier Drogba, dan cerita tak pernah lagi sama bagi Crespo. Pemain Pantai Gading itu melesat bak meteor dan meninggalkan Crespo di kepulan debu sehingga ia sempat dipinjamkan ke AC Milan selama satu musim. Crespo kembali mampu mencetak 10 gol satu musim setelah masa ‘pengasingan’nya kendati bermain di bawah bayang-bayang Drogba. Hingga saat ini, banyak pengamat yang menilai bahwa Crespo bisa saja betul-betul menjadi pemakai Nomor 9 tersukses di Chelsea jika saja diberi lebih banyak kesempatan berlaga.

3. Mark Stein

Periode : 1993-1998

Mungkin para fans Chelsea saat ini tidak begitu familiar dengan nama Mark Stein, namun di awal 90’an, pemain keling itu sempat menjadi primadona kala didatangkan dari Stoke City. Stein merupakan striker pertama di era modern yang memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak secara berturut-turut dengan torehan tujuh gol dari tujuh pertandingan; sebelum angka itu dilampaui oleh Ruud Van Nistelrooy (dan Jamie Vardy). Stein mengakhiri musim perdananya di The Blues dengan torehan 14 gol.

Setelah sukses menggelontorkan 25 gol di dua musim, jam bermain Stein semakin terbatas setelah kedatangan sejumlah punggawa seperti Mark Hughes, Gianluca Vialli dan Gianfranco Zola, hingga ia lebih banyak dipinjamkan di tiga musim terakhirnya. Saat ini, Stein masih berkarir sebagai fisioterapis untuk klub divisi Championship, Rotterham United.

2. Gianluca Vialli

Periode : 1996-1999

Tidak seperti sejumlah nama di daftar ini yang ‘hanya’ berpotensi besar tanpa prestasi signifikan sebelum bergabung di Chelsea, Gianluca Vialli telah memenangkan nyaris seluruh gelar yang ada selama kiprahnya di Italia, dan harapan tinggi pun disematkan kepadanya.

Hebatnya, Vialli mampu membuktikan bahwa ia bukanlah sekedar ‘nama besar’. Selama tiga musim bersama The Blues, ia mencetak total 40 gol dan mempersembahkan sejumlah trofi bergengsi; mulai dari Piala FA, Piala Liga, Piala Super UEFA hingga Piala Winner UEFA. Di tahun 1998, Vialli menjabat rangkap sebagai pemain sekaligus pelatih sebelum pensiun di akhir musim kompetisi. Tambahan gelar Piala Fa dan Piala Liga menjadi penutup yang manis bagi karir sang legenda di London Barat.

1.Jimmy Floyd Hasselbaink

Periode : 2000-2004

Meski tidak sementereng Vialli, karir Hasselbaink bersama Chelsea tidak main-main. Sang meneer Belanda digaet dari Ateltico Madrid dengan biaya 15 juta Pounds dan langsung tancap gas tanpa basa-basi. Di dua musim perdanyanya, Hasselbaink menggelontor total 23 gol dan menambahnya lagi dengan 11 gol di musim ketiga. Tandemnya dengan pemain Islandia, Eidur Gudjohnsen hingga saat ini masih mendapat tempat tersendiri di hati para suporter The Blues.

Pada musim terakhirnya, Hasselbaink membukukan total 13 gol yang menempatkannya sebagai salah satu striker terhebat Chelsea sepanjang masa, sebelum pemain yang dikenal dengan sepakan keras spektakuler itu menyebrang ke Middlesbrough di tahun 2004.

Advertisement
Comments