Barcelona telah mengumumkan penunjukan Xavi Hernandez sebagai pelatih baru hingga 2024.

Mereka melakukan pergantian pelatih dengan sosok yang juga pernah berseragam Barcelona, sama seperti Koeman.

Sejak Pep Guardiola berpisah dengan Barcelona pada musim panas 2012, klub gagal menemukan pengganti yang tepat. Guardiola bisa dibilang memiliki tim terbaik abad ke-21, membawa Barcelona meraih enam gelar pada 2009 dan mencetak sejarah baru.

Sejak itu, Barcelona telah menunjuk sembilan pelatih berbeda, tetapi gagal menemukan pengganti jangka panjang. Dalam diri Xavi, Blaugrana mungkin akhirnya menemukan pria mereka.

Dan inilah 5 pelatih terburuk dalam sejarah Barcelona.

Radomir Antik

Radomir Antic ditunjuk sebagai pelatih Barcelona selama empat bulan sebelum penunjukan Frank Rijkaard.

Meskipun tidak adil untuk menilai Antic selama empat bulan, dia memiliki catatan buruk sebagai pelatih Barcelona. Mantan pemain timnas Yugoslavia itu memiliki persentase kemenangan terburuk (50%) dibandingkan pelatih Barcelona mana pun setidaknya dalam lima pertandingan.

Antic ditunjuk sebagai pelatih Barcelona di pertengahan musim 2003-2004, dengan klub tersebut menempati urutan ke-15 klasemen La Liga. Tak heran, Antic gagal meraih trofi selama karir manajerialnya di Camp Nou dan akhirnya digantikan Frank Rijkaard.

Selama 24 pertandingan sebagai pelatih Barcelona, ​​Antic memenangkan 12 pertandingan, imbang delapan kali dan kalah empat kali.

Ronald Koeman

Ronald Koeman yang baru saja dipecat meninggalkan Barcelona sebagai pelatih dengan rekor kemenangan terburuk dalam hampir dua dekade.

Pria asal Belanda itu mengambil alih kendali di Camp Nou pada musim panas 2020 dari Quique Setien, dengan klub yang dalam kondisi buruk di dalam maupun luar lapangan.

Koeman melakukan pekerjaan yang tidak menyenangkan untuk menghidupkan kembali Barcelona di tengah krisis keuangan, dan harus berurusan dengan Lionel Messi yang tidak Bahagia sehingga meminta transfer ke klub lain.

Koeman melakukan pekerjaan yang layak untuk menstabilkan tim, tetapi kepergian Messi pada musim panas 2021 mengungkap kekacauan keuangan Barcelona. Pelatih asal Belanda itu tidak pernah bisa benar-benar menjaga skuat tetap bersatu dan berjuang keras setelah kepergian bintang mereka, dan mau tidak mau menghadapi pemecatan.

Selama 14 bulan masa jabatannya di klub, Koeman menjadi pelatih Barcelona kedua dalam sejarah yang kalah dalam tiga El Clasico awal. Dia juga memiliki persentase kemenangan yang rendah sebesar 58%, sekaligus terendah sejak Radomir Antic pada musim 2002-2003.

Koeman hengkang dari Barcelona dengan catatan 39 kemenangan, 12 hasil imbang dan 16 kekalahan dari 67 pertandingan.

Gerardo Martino

Gerardo ‘Tata’ Martino ditunjuk sebagai pelatih Barcelona jelang musim 2013-2014.

Mantan pelatih Newell’s Old Boys itu mendapatkan reputasi sebagai salah satu pelatih paling berbakat dalam pertandingan selama waktunya di liga domestik Argentina.

Martino sangat mengesankan sehingga Barcelona memutuskan untuk tidak mempromosikan seorang pelatih dari tim junior untuk memberikan Martino kesempatan di panggung terbesar.

Advertisement

Namun, segala hal tidak berjalan sesuai dengan rencana untuk Barcelona dan Martino, meskipun awal yang baik untuk karir manajerialnya di Camp Nou. Pada hari-hari awal musim 2013-2014, Barcelona berada di posisi terdepan di klasemen La Liga dan bersaing untuk treble winners.

Pada akhirnya, Barcelona kalah bersaing dari Atletico Madrid dalam perebutan gelar La Liga dan juga tersingkir dari Liga Champions UEFA pada babak perempatfinal musim itu dari Atletico Madrid.

Laszlo Kubala

Laszlo Kubala adalah salah satu pemain terhebat yang pernah mengenakan seragam Barcelona di abad ke-20, memenangkan 13 trofi utama.

Barcelona merayakan karir Kubala yang luar biasa dengan memasang patung perunggu dirinya tepat di luar Camp Nou. Dalam 212 penampilan resmi untuk Barcelona, ​​mantan pemain timnas Spanyol kelahiran Hungaria itu mencetak 146 gol.

Kubala juga memenangkan empat gelar liga dan lima piala domestik selama 11 tahun di Barcelona.

Namun, kesuksesannya sebagai pemain tidak diterjemahkan ke dalam karir manajerialnya, karena performanya sangat buruk dalam dua periode yang berbeda. Dia tetap tanpa trofi dalam periode pertamanya di Barcelona, ​​​​yang berlangsung selama lebih dari dua tahun. Namun, periode keduanya bahkan lebih mengecewakan.

Kubala gagal mengamankan trofi dalam tugas manajerial keduanya di Barcelona, yang hanya berlangsung enam bulan. Dalam periode keduanya di klub, Kubala hanya tetap bertugas selama 13 pertandingan, menang tujuh kali dan kalah enam kali.

Quique Setien

Quique Setien dianggap oleh banyak orang sebagai pelatih Barcelona terburuk dalam beberapa tahun terakhir, hanya bertahan tujuh bulan.

Pria asal Spanyol itu mewarisi skuat yang berkinerja buruk dari Ernesto Valverde, tetapi dianggap sebagai orang yang tepat untuk membalikkan nasib Barcelona. Setien adalah penganut filosofi Cruyffian, dan gaya permainan menyerangnya dianggap sangat cocok di sisi Camp Nou.

Setien adalah entitas yang sebagian besar tidak dikenal ketika dia ditunjuk sebagai pelatih Barcelona, ​​​​tetapi sangat mengesankan selama periodenya di Real Betis.

Namun, dia tidak pernah berhasil meniru kesuksesan itu selama tujuh bulan bertugas di Camp Nou. Setien pergi tanpa trofi dalam tugasnya di Barcelona, ​​mencatat 16 kemenangan, empat imbang dan lima kekalahan dalam 25 pertandingan sebagai pelatih. Pertandingan terakhirnya sebagai pelatih menyimpulkan dengan sempurna masa jabatan manajerialnya di Catalonia.

Barcelona mengalami kekalahan 8-2 di tangan Bayern Munich di perempatfinal Liga Champions UEFA. Quique Setien dicopot dari posisinya tiga hari kemudian dan digantikan oleh Ronald Koeman.

Advertisement
Comments