BERITA BOLA

Zinedine Zidane : Maestro Lapangan Hijau Yang Tiada Bandingannya

Dari Debu Kota Imigran Itu..

La Castellane : Pemukiman yang mirip penjara

Terletak di utara kota Marseille, La Castellane bukanlah tempat yang menarik untuk dikunjungi, bahkan oleh penduduk lokal sekalipun. Tidak ada yang patut dilihat dari pemukiman imigran kumuh itu selain jalanan berdebu dan bangunan berwarna putih seragam yang menjulang. Di Prancis, tempat ini masuk dalam jajaran ‘zona sensitif’ karena populasinya yang sebagian besar terdiri dari generasi pertama dan kedua imigran asal Maroko dan Aljazair. Di sinilah Zinedine Yazid Zidane lahir.

Zidane cilik : Penghancur bola lampu apartemen

Tumbuh di lingkungan yang keras sebagai ‘beurs’—imigran Arab sebagai warga kelas dua Prancis (meski tidak memiliki darah Arab sama sekali), Zidane menjadikan sepakbola sebagai pelariannya sejak kecil. Ayahnya, Smail dan ibunya, Malika, cukup mendukung hobi putra bungsu mereka meski kerap kali, ‘bola’ kain Zidane menghancurkan lampu dan benda pecah belah lainnya di apartemen. Seperti bocah seusianya, Zidane pun sempat bergabung di sejumlah klub cilik setempat hingga akhirnya ditemukan pelatih Cannes, Jean Varraud, kala Zidane menghadiri kamp pelatihan resmi selama 3 hari yang diadakan Federasi Sepakbola Prancis.

 

Sikat WC, Gol Perdana dan Mobil..

Zidane pun pindah ke Cannes, klub professional pertamanya, untuk mengasah talenta luar biasa yang ia miliki. Namun, pada mulanya, hal itu terbukti tak mudah. Di minggu-minggu pertamanya, Zidane lebih banyak beradu fisik dengan rekan-rekan timnya yang menghina latar belakang ghetto nya sebagai beurs. Varraud mengupayakan segala cara agar Zidane fokus berlatih dan mengontrol temperamennya yang kadang berlebih.

Zidane di Cannes : Temperamental dan ‘mentah’

Ya, di luar Zidane memang terlihat canggung dan santun, namun darah Berber yang mengalir di tubuhnya; ditambah lagi latar belakang sebagai imigran yang tumbuh di kerasnya jalanan membuatnya bisa meledak di saat-saat tertentu. Alhasil, sang remaja tanggung pun acapkali diberikan ‘kehormatan’ untuk membersihkan ruang ganti dan menyikat kamar mandi setiap kali terpancing oleh ejekan teman sejawatnya. Lambat laun, Zidane akhirnya bisa menahan emosinya dan fokus berlatih.

Zidane memulai debutnya di tim utama Cannes pada bulan Mei 1989 kontra Nantes dan terus bermain secara reguler. Presiden klub kala itu, Alain Pedretti menjanjikan Zidane sebuah mobil jika ia mampu mencetak gol pertama di kancah professional. Butuh waktu dua tahun bagi Zidane untuk memenuhi hal tersebut, tepatnya di bulan Februari 1991, juga di laga kontra Nantes. Selepas laga, sebuah mobil Clio baru pun diantar ke depan asrama Zidane.

Meski belum matang betul, selama bermain di Cannes, Zidane telah menunjukkan kemampuan teknik istimewa serta pergerakan luwes dengan kedua kakinya yang suatu saat kelak akan menghantarnya ke jajaran pemain terbaik sepakbola modern.

 

Mengendalikan Amarah Di Bordeaux..

Setelah tiga musim membela Cannes, Zidane melanjutkan petualangannya di Liga Prancis bersama Girondins De Bordeaux. Meskipun telah terbiasa dengan cemoohan dan tidak bereaksi frontal terhadap hal tersebut, Zidane tetap masih mudah dipancing dengan kata-kata. Untunglah juru taktik Bordeaux saat itu, Rolland Courbis, juga bertekad untuk membentuk kepribadian Zidane karena mengagumi bakat mentah yang dimilikinya. Courbis, yang dikenal lihai membimbing pemain muda, mampu menanamkan nilai-nilai disiplin dan pengendalian diri pada ‘Zizou’—nama yang diberikan Courbis untuk pemain kesayangannya. Arahan Courbis pun berbuah manis. Zidane mempersembahkan sejumlah gelar bergengsi bagi Bordeaux semasa merumput di sana, diantaranya Piala Intertoto dan juga menjadi runner-up ajang Piala UEFA. Bersama Bixente Lizarazu dan Christophe Duggary, Zidane membuat trio lini tengah yang meneror tim-tim Liga Prancis.

Zidane dan Duggary : Sohib yang mematikan di lapangan

Namun lucunya, karena keterbatasan media informasi kala itu, Zidane tak terdengar cukup gaungnya di Eropa, terutama Inggris, yang di era tersebut masih cukup tertutup pada pemain asing.”Kenapa kamu mau mendatangkan Zidane kalau kami sudah punya Tim Sherwood?” demikian sindir presiden Blackburn kala itu, Jack Walker kepada manajer Kenny Daglish yang berminat membeli Zidane.

Yeah, right, Walker..

 

Ayam Jantan Kesayangan Si Nyonya Tua..

Performa hebat Zizou membuat sejumlah klub elit yang serius mulai mengirim pemandu bakat untuk memantaunya lebih dekat. Di bulan semi 1996, ia pun akhirnya memutuskan untuk menerima pinangan raksasa Serie A, Juventus yang baru saja menjuarai Liga Champion. Dalam sebuah wawancara, Zizou mengaku bahwa Juve merupakan klub Eropa favoritnya sejak kecil. Ia tiba di Juve dengan talenta matang, usia emas dan nilai-nilai pengendalian diri yang ditanamkan Courbis.

Zidane di Juventus (vs Fernando Redondo) : Perhatikan rambut bagian atasnya yang mulai menipis

Meski riak emosi masih menyeruak di beberapa partai pertamanya bersama Bianconeri, namun lama kelamaan sirna dan berganti dengan aura kepemimpinan yang kental. Zizou, yang di plot sebagai playmaker tepat di depan duet ‘penghancur’ Edgar Davids dan Didier Deschamps menjelma menjadi salah satu gelandang tengah terbaik dunia lewat umpan, dribel elegan, serta kemampuan menciptakan ruang yang luar biasa. Di musim debutnya, Zizou langsung mempersembahkan gelar Scudetto dan Piala Interkontinental. Kemudian pada tahun 1997, ia sekali lagi membawa klub menjuarai Serie-A dan menghantar Juve ke final Liga Champion sebelum dikandaskan Real Madrid. Di tahun ini pula, Zidane mulai kehilangan rambut di bagian atas kepala; yang membuat penampilannya semakin khas dan mudah dikenali.

Di tim nasional Prancis pun karir Zizou cukup gemilang. Memulai debutnya di Les Bleus tahun 1994, tak butuh lama bagi Zidane untuk dipercaya sebagai pengatur tempo tim, menggantikan Eric Cantona yang menjalani masa hukuman panjang karena kasus ‘tendangan kungfu’ pada fans.

Zidane di Piala Dunia 1998 : Jadi kampiun bersama Prancis

Zizou kemudian bermain rutin di ajang Euro 1996, namun tak mampu berbicara banyak dan harus terhenti di semifinal setelah takluk dari Republik Ceko di babak adu penalti. Dua tahun kemudian, Zizou adalah sosok vital nan ikonik kala Prancis menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya. Meski sempat dikartu merah di babak penyisihan grup kontra Arab, Zizou pun bangkit dan mencetak dua dari tiga gol kemenangan Prancis atas juara bertahan Brasil di partai puncak. Namanya pun dielu-elukan sebagai pahlawan Negara, dan dunia langsung menyambut kedatangan sang Maestro dengan gegap gempita, tanpa peduli dengan latar belakangnya sebagai seorang imigran.

 

Lukisan Indah Sang Maestro Di ‘Kanvas’ Spanyol..

Kemampuan Zizou untuk mendatangkan gelar ke tim yang dibelanya, terlebih setelah kejayaan di Piala Dunia, sontak membuatnya menjadi komoditi paling ‘panas’ di sepakbola modern. Di tahun 2001, tak ada mata yang terbelalak saat ia hijrah ke Real Madrid dengan memecahkan rekor pemain termahal dunia kala itu, sekaligus mengawali era Los Galacticos yang tersohor.

Zizou diperkenalkan untuk pertama kali pada publik Real Madrid : Sang Maestro Mendapat Kanvas Terbaik

Seperti yang sudah-sudah, tak butuh waktu lama bagi seorang Zizou untuk membuktikan kualitas sahihnya. Di partai final Liga Champion 2002 kontra Bayer Leverkusen, ia mencetak gol kemenangan 2-1 untuk Madrid. Menerima bola lambung (yang terlampau tinggi) dari Roberto Carlos, Zizou melepas voli first time kaki kiri yang meluncur dengan lengkungan mulus ke pojok kanan atas gawang Hans-Jorg Butt. Hingga kini, gol tersebut dianggap berbau supranatural. Bila dilihat dari tayangan ulang, Nampak semuanya seakan sudah digariskan bagi sang maestro untuk ‘melukis’ karya agungnya. Para bek, kiper lawan, bahkan Roberto Carlos sendiri semua hanyalah latar bagi torehan elegan Zizou di atas ‘kanvas’ hijau lapangan.

Selama lima tahun membela Madrid hingga pensiunnya, Zizou bermain di 155 kesempatan dan mencetak 37 gol. Caranya menggiring bola dan melepas tendangan akurat yang sama baik dengan kedua kakinya tidak bisa dibandingkan dengan pemain sepakbola lain. “Ia seperti penari Bali”, demikian puji komentator dalam sebuah pertandingan yang kebetulan disaksikan oleh penulis di layar televisi. Kala itu, Zizou melakukan teknik ‘putaran Marseille’ nya yang ikonik dan sukses mengelabui dua pemain lawan sekaligus.

Ada kepuasan tersendiri kala melihat Zizou menggiring bola. Meski ia bukanlah yang tertajam, atau pendribel terbaik di jagat sepakbola, namun ada daya tarik tersendiri menyaksikan bola begitu manut di antara kedua kakinya, seolah menganggap Zizou adalah tuan. Gaya dribelnya pun berbeda dari Amerika Latin yang mengandalkan step over dan kecepatan yang khas. Gerak tipu yang dilakukan Zizou begitu mulus dan elegan, seolah membawa unsur kemegahan Eropa di tiap langkahnya. Matang, presisi dan penuh keagungan.

Di tahun-tahun terakhirnya merumput, Zizou hampir tak pernah terlibat insiden fisik lagi di lapangan untuk sekian lama, hingga satu kejadian—bukan, tragedi, yang mengiringi langkahnya meninggalkan gelanggang sepakbola internasional dengan kernyit keheranan..

 

Silap Mata, Tandukan dan Kejayaan yang Sirna..

Pensiun massal yang dilakukan sejumlah punggawa Les Bleus; diantaranya Bixente Lizarazu, Marcel Desailly dan Claude Makelele membuat pelatih Raymon Domenceh menghubungi Zizou dan memohonnya untuk kembali ke tim nasional. Ya, Zizou sebetulnya telah memutuskan pensiun dari timnas Prancis setelah kegagalan di Piala Eropa 2004. Konon kabarnya, Zizou menerima ajakan tersebut karena kerap mendengar ‘bisikan misterius’ setiap malam sebelum Domenech menelponnya. Ia pun didaulat sebagai kapten tim Ayam Jantan di kompetisi internasional terakhirnya sebagai pemain sepakbola.

Setelah start yang lambat, Prancis dengan susah payah akhirnya mampu melaju ke final Piala Dunia 2006, berhadapan dengan Italia. Zizou sudah dianugrahi gelar Golden Ball turnamen tersebut sebelum final bergulir, dan karena ia telah mengumumkan akan gantung sepatu selepas kompetisi, khayalak sepakbola pun semakin bergairah, karena mengetahui bahwa partai kontra Gli Azzurri tersebut akan menjadi laga terakhir yang dilakoni sang maestro.

Benar saja, Zizou langsung mencuri perhatian di laga tersebut lewat gol titik putih di menit ke-7 akibat pelanggaran Marco Materazzi. Nama terakhir pun tak mau kalah dan mencetak gol penyeimbang yang memaksa pertandingan berlanjut hingga babak extra time. Di babak perpanjangan pertama, Zizou hampir merobek jala untuk kedua kali bagi Prancis jika saja tandukannya tidak berhasil diamankan dengan gemilang oleh Gigi Buffon.

Kemudian di menit ke 110, terjadilah peristiwa tersebut. Entah mengapa, Zizou sekonyong-konyong menanduk keras dada Marco Materazzi, yang memang menjadi ‘sipir’ yang menggasaknya di sepanjang laga. Bek tangguh yang gemar bermain kotor itu pun bergulingan di lapangan dan sontak wasit asal Argentina, Horacio Elizondo, mengacungkan kartu merah langsung kepada Zizou. Dalam waktu singkat, suara di stadion seakan menguap dan kembali membahana kala sang maestro berjalan dengan tertunduk meninggalkan ‘kanvas’nya, melewati Piala yang gemerlap terpajang, dan tenggelam ditelan gelapnya lorong menuju ruang ganti.

Lalu, seperti yang kita semua ketahui, Italia keluar sebagai kampiun Piala Dunia 2006 setelah memenangkan adu penalti.

 

Terlahir Kembali Sebagai Nahkoda Handal..

Selepas pensiun pun Zizou tetap mempertahankan personanya yang tertutup dan pemalu pada publik. Ia menghindari kehidupan glamor dan lebih sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan amal di seluruh dunia sebagai duta sepakbola. Kendati demikian, hasrat Zizou pada kulit bundar tak lekang oleh waktu. Meski raganya sudah tidak lagi memungkinkan untuk diadu di lapangan dengan mereka yang berusia belia, Zizou kemudian mulai membagikan segenap pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya kepada para bakat muda dengan menjadi pelatih Real Madrid Castilla di tahun 2014.

Zizou diperkenalkan Florentino Perez sebagau pelatih Real Madrid : Terlahir kembali dengan gemilang

Dua tahun berselang, kala pelatih tim utama Madrid, Rafael Benitez diberhentikan, Zizou diangkat sebagai nahkoda kepala. Meski sudah memiliki nama besar, namun penunjukan sang maestro untuk menukangi tim sebesar Real Madrid sontak menimbulkan pro dan kontra, apalagi, Zizou belumlah teruji sebagai pelatih. Bukannya ciut, Zizou perlahan membuktikan bahwa ia memang jenius sepakbola. Selama dua musim menukangi Madrid, ia mempersembahkan 7 trofi bagi Real Madrid, termasuk gelar La Liga dan back-to-back Liga Champion yang membuatnya menjadi pelatih pertama di dunia yang mampu melakukannya!

Zizou dan Piala ‘Si Kuping Besar’ : Cetak sejarah membanggakan

Gaya hidup Zizou yang seakan anti-glamor pun rupanya terwujud dalam filosofi kepelatihannya. Di saat klub-klub besar lain seakan berlomba untuk mendatangkan pemain muda semahal mungkin, Zizou tak terpengaruh dan tetap dengan tenang memilih nama-nama terbaik dari akademi Real Madrid untuk mengisi tempat di tim inti. Selain ‘menghidupkan’ kembali karir Isco, Zizou juga sukses memoles punggawa muda seperti Marco Asensio untuk menempati panggung utama.

Kedua putranya, Enzo dan Luca, juga mengikuti jejaknya sebagai pemain sepakbola dan mengawali karir di akademi Real Madrid. Namun Enzo kini telah dijual ke Deportivo Alaves, sementara Luca diberi kesempatan untuk berlaga di Liga Champion. Zizou bukanlah sosok yang memuja nepotisme, di matanya, semua pemain memiliki kesempatan yang sama, terlepas dari hubungan darah sekalipun. Di bawah kendalinya, Madrid akhirnya lambat laun bisa lepas dari hegemoni Barcelona, dan bukan tak mungkin akan melalui era-era kejayaan lagi.

Lalu, bagaimana tentang pertikaiannya dengan Materazzi yang sudah menjadi legenda tersendiri? Biarlah hanya Zizou, Materazzi dan Tuhan yang tahu. Saat ini, hal-hal itupun  sudah tidak signifikan lagi di hadapan gelimangan prestasi yang dibukukan sang maestro sebagai peracik strategi bukan? Semua hanyalah kepingan masa lalu di lembaran hidup Zinedine Zidane; laksana debu yang terkibas di sudut-sudut distrik La Castellane yang dicintainya.

 

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top