BERITA BOLA

“Tidak ada yang seperti kami, tidak ada sebelum kami” : Juventus, Skandal Calciopoli dan Buah Kesetiaan Gianluigi Buffon

Juventus baru saja meraih gelar Serie A ke 6 nya berturut-turut. Sebagai tim yang pernah terdegradasi di era milenium, pencapaian itu tentunya membuktikan bahwa mereka memanglah sebuah tim yang memiliki mental juara. Kiper Gianluigi Buffon merupakan satu dari segelintir punggawa yang memutuskan tetap tinggal di Juventus kala mereka terdegradasi, dan baru-baru ini ia menuturkan alasannya melakukan hal luar biasa tersebut.

Juventus terdegradasi ke Serie B tahun 2006 silam karena terjerat skandal Calciopoli yang melibatkan pihak klub dan organisasi wasit Italia. Namun tim berkostum utama hitam-putih itu tak berlama-lama berkubang di divisi tersebut dan berhasil kembali ke Serie A satu musim setelahnya. Kendati demikian, sejumlah bintang langsung meninggalkan klub berjuluk Si Nyonya Tua itu saat mereka turun kasta, diantaranya Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira, namun beberapa legenda seperti Alessandro Del Piero, Mauro Camoranesi dan Pavel Nedved, Buffon tetap setia bertahan. Kiper berjuluk ‘Superman’ itu pun buka-bukaan mengenai peristiwa tersebut.

“Saya memiliki enam gelar Scudetti berturut-turut, dan juga 10 sepanjang karir saya” buka Buffon pada tulisannya di sebuah kolom harian La Stampa. “Ya, 10, saya tidak malu mengatakan bahwa saya memenangkan itu semua, di lapangan, disamping para juara yang wajah, kelelahan dan senyumannya bisa saya lihat selagi saya menulis. Baik FIGC, Wikipedia, maupun Serie A mengatakan ada delapan, saya tak akan membahas para wasit, hakim atau hukum, tapi tak ada satu orang pun yang bisa menampik hak saya untuk merasakan itu semua. Sebuah kebanggaan yang kembali ke ingatan saya adalah saat musim panas 2006. Sebuah musim panas yang sangat terik dan gila, musim panas yang hengkangnya (para pemain Juve) dapat dimengerti dan eksodus yang tak bisa dihakimi.” tulis Buffon sedikit berpuitis.

“Namun juga musim panas konfrontasi dan hasrat untuk mengubah sejarah. Bahkan, menulis sejarah. Tidak ada yang seperti kami, tidak ada sebelum kami.”

“Saya memikirkan Pavel (Nedved), Alex (Del Piero), David (Trezeguet), Camo (Mauro Camoranes)..dan kemudian saya sendiri. Kami memutuskan untuk tetap tinggal (di Juventus) bersama-sama untuk menghargai sebuah seragam, sebuah klub, sebuah fanbase. Kami kehilangan segalanya untuk meraih hal-hal yang tak terukur dan tak dapat ditukar: respek dan afeksi. Menemukan nilai kami untuk sebuah grup dan tim, karena tanpa kami, tidak akan ada kemenangan, catatan dan penaklukan”

Keputusan besar tersebut memang terbukti sangat penting. Bersama Juventus, Gigi Buffon telah menjelma menjadi sesosok legenda, pemain besar yang bukan hanya dari kemampuannya di bawah mistar saja, namun juga pemikiran mendalam untuk menginspirasi pemain-pemain bintang lain perihal kesetiaan yang berbuah kejayaan.

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top