BERITA BOLA

Pengaturan Skor, Simpati Barcelona, Dan Puncak ‘Gunung Es’ Drama Tim Divisi Tiga Liga SPanyol

Pekan silam, media sepakbola dunia santer memberitakan tindakan positif tim Barcelona B yang memberikan penghiburan kepada tim lawan Eldense, yang mereka bantai dengan skor telak 12-0, namun ternyata, itu hanyalah puncak dari gunung es yang akhirnya menyeret tim tersebut ke pusaran skandal besar di ranah sepakbola internasional saat ini.

Setelah laga naas tersebut, Eldense langsung menghentikan seluruh kegiatan sepakbolanya, termasuk urung melanjutkan enam laga sisa. Dunia pun sempat menaruh simpati yang mendalam pada tim penghuni dasar klasemen liga divisi 3 Spanyol tersebut. Gambar tim Barcelona yang mencoba menghibur para punggawa Eldense yang berurai air mata pun menjadi viral dan membuat haru publik sepakbola.

Namun tak berapa lama berselang, seorang punggawa Eldense, Cheikh Saad, membuat pengakuan mengejutkan bahwa sejumlah rekan setimnya terlibat dalam skandal pengaturan skor. Menurut pengakuannya, presiden Eldense David Aguilar memasuki ruang ganti di jeda babak dan berargumen dengan pelatih mengenai skor akhir pertandingan dan secara spesifik mengucapkan bahwa skor harus 8-0 di babak pertama dan 12-0 di babak kedua.

Saad juga menuturkan bahwa dirinya nyaris beradu fisik dengan empat orang rekannya yang bertaruh untuk kekalahan Eldense saat itu. Pemain berusia 26 tahun itu juga menegaskan tak ada pemain Barcelona B yang diketahui terlibat, dan semua itu sudah diatur di dalam tubuh internal tim Eldense.

Prahara drama Eldense makin mengemuka setelah pihak kepolisian resmi menahan pelatih utama Filippo Vito di Pierro, dan general manager Nobile Capuani pada hari selasa (4/4) kemarin. Keduanya dikatakan “mewakili para investor asal Italia yang baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan klub tersebut”.

Kasus pengaturan skor memang kerap terjadi di seluruh dunia, terutama di divisi rendah yang tak terlalu sering tersorot publik. Para pelaku bisa mengantongi hingga miliaran dolar-yang tentunya jauh melampaui upah resmi mereka-sehingga tak sedikit yang kemudian tergiur untuk melakukan tindakan kriminal tersebut demi keuntungan pribadi.

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top