BERITA BOLA

Mengupas Peran Regista : Kompleksitas Dan Kesederhanaan ‘Sutradara’ Sepakbola

Sepakbola adalah permainan kolektif yang tercipta oleh berbagai peran yang saling mendukung demi satu tujuan : kemenangan. Maka tak heran seiring perkembangan zaman, olahraga indah ini terus berevolusi dan melahirkan peran-peran baru sebagai sarana pendukung strategi sebuah tim. Salah satunya adalah ‘Regista’; sebuah lakon kompleks nan unik yang bisa dianggap sebagai poros permainan.

Awal Mula..

Bagi para penggemar sepakbola Italia dan pemain game Football Manager, tentu sudah tidak asing dengan istilah ‘Regista’, dan jika mendengar istilah tersebut, pikiran akan otomatis melayang kepada Andrea Pirlo. Gelandang nan elegan itu memang bisa dibilang menyempurnakan peran Regista, namun ia bukanlah inventor, atau penemu lakon tersebut. Adalah Gianni Rivera; playmaker AC Milan di era 70-an yang merupakan titik awal terciptanya peran Regista.

Gianni Rivera : Golden Boy Yang Melahirkan Peran Regista

Rivera, yang aslinya berposisi sebagai ‘trequarista’, memiliki kemampuan mengatur tempo yang luar biasa yang didukung dengan imajinasi, kreativitas serta insting bertahan yang mumpuni, sehingga amat mempermudah rekan-rekannya dalam menemukan jalan ke gawang lawan.

Namun seiring berjalannya waktu, peran Regista di antara lini tengah dan lini depan mulai terkikis oleh kehadiran para playmaker dan shadow striker (striker bayangan) yang tajam dan menjadi primadona khususnya di Liga Italia. Pemain-pemain seperti Fransesco Totti, Roberto Baggio, hingga Zidane yang memiliki trik kaki ajaib, kecepatan serta tendangan akurat membuat para pelatih memiliki alternatif ampuh untuk menyokong para ujung tombak. Di era ini pulalah dikenal posisi ‘tukang angkut air’ atau gelandang bertahan bertipe perusak untuk melapisi lini belakang, dengan para bintangnya seperti Edgar Davids atau Antonio Conte.

 

Evolusi..

Namun bukan sepakbola namanya jika tidak berubah seiring berjalannya waktu. Di tahun 2002 / 2003, Carlo Ancelotti, peracik strategi AC Milan kala itu, berhasil ‘menyulap’ salah satu bintangnya, Andrea Pirlo, menjadi penyempurna peran Regista. Pendekatannya sederhana : jika di era modern posisi trequarista menjadi sangat vital dan tidak tergantikan, kenapa tidak menggeser Regista ke sisi dalam, di depan para bek?

Ancelotti dan Pirlo : Penyempurna Peran Regista Modern

Di atas kertas, hal ini pastilah terdengar gila dan sembarangan kala pertama ia cetuskan, namun bisa kita lihat dampaknya; berkat ide nyeleneh Ancelotti, AC Milan menjalani periode bergelimang juara dengan menjadikan peran Regista Pirlo sebagai poros permainan. Jika ditilik jauh lebih ke belakang, Pirlo sudah menjajal posisi unik ini kala masih membela Internazionale Milan. Setelah itu, bahkan tim nasional Italia pun terkena imbasnya. Pelatih gaek Marcello Lippi memutuskan untuk menjajal ide Ancelotti untuk diterapkan di tim nasional Italia asuhannya. Hasilnya? Gelar Piala Dunia 2006 berhasil diraih Fabio Cannavaro dan kawan-kawan.

Italia Juara Piala Dunia 2006 : Berkat Peran Sang ‘Sutradara’

 

Bedah Peran..

Secara garis besar, regista hanya memiliki satu tugas utama : mengumpan. Terdengar mudah bukan? Namun jika ditilik lebih mendalam, nyatanya tidaklah segampang itu.

Bila diterjemahkan dari bahasa aslinya, Regista berarti ‘direktur’ atau ‘sutradara’—mengambil istilah perfilman. Dari situ dapat kita peroleh gambaran bahwa kerja utama seorang Regista adalah menjadi pengatur tempo dalam satu kesebelasan. Namun yang membedakan dari ‘playmaker’ pada umumnya, Regista modern bermain di belakang garis tengah; tepat di depan lini pertahanan. Ini membuat pelakonnya harus memiliki visi yang matang dan akurasi umpan jarak jauh yang presisi, selain kemampuan bertahan yang juga mumpuni. Regista sedikit banyak melakukan dua  macam tugas bersamaan; yakni sebagai perisai sekaligus pencipta celah bagi ujung tombak untuk menuntaskan tugasnya.  Jika melihat permainan Pirlo di AC Milan era Ancelotti, atau Xavi Hernandez dan Sergio Busquets di Barcelona era Guardiola, terlihat bahwa Regista sering terlibat pada perebutan bola dan menjadi awal terciptanya skema penyerangan.

Secara esensi, Regista adalah playmaker sisi-dalam (Deep-Lying Playmaker) dalam versi yang lebih ekstrim. Regista harus mempertahankan posisinya di antara lini tengah dan belakang sembari melepas umpan-umpan jitu untuk membebaskan para rekannya di garis depan. Regista beroperasi di setengah lapangannya sendiri dan jarang maju melebihi garis tengah terutama dalam keadaan tanpa bola. Peran ini sangat cocok diterapkan pada tim yang bermain dengan pressing tinggi yang suka mendominasi penguasaan bola. Idealnya, Regista harus disokong lagi oleh seorang gelandang bertipe ‘jangkar’ yang bermain agak lebih ke depan, karena tugas utama Regista yang harus senantiasa mengatur pertahanan serta penyerangan di waktu bersamaan.

Jadi, secara garis besar, apakah atribut yang harus dimiliki seorang Regista yang baik? Yang pertama tentunya kecerdasan dan kemampuan mendistribusi bola yang baik, terutama dalam hal passing; Regista harus secara konstan memegang bola dan membuka ruang dari kedalaman. Disamping kemampuan teknik, hal ini tentu juga menuntut intelijensia serta visi yang luas. Skill primer lain yang dapat menyokong peran Regista adalah ketenangan, first touch (sentuhan pertama) dan agresivitas yang cukup tinggi, selain juga determinasi, positioning, pergerakan tanpa bola, konsentrasi serta stamina. Andrea Pirlo menjadi identik dengan peran Regista karena ia memiliki seluruh atribut tersebut dan dapat mengaplikasikan ke permainannya di lapangan.

Bagan Operan Pirlo Sebagai Regista : Lebih Banyak Berhasilnya!

Contoh paling jelas bisa dilihat salah satu contoh di bagan statistik Pirlo ketika membawa Italia menekuk Jerman di partai semifinal Euro 2012 silam. Ia membuat total 61 passing akurat dari 66 yang dilepaskan sepanjang pertandingan dari posisi dalam antara lini bertahan dan lini tengah. Playmaker pencinta wine itu memiliki rasio keberhasilan passing dahsyat 92.42%, yang tentu bukan perkara mudah sama sekali untuk dibuat di level internasional. Mayoritas passing Pirlo dalam laga tersebut dibuatnya dalam jarak pendek, meski ada pula yang panjang; kesemuanya digunakan dengan baik untuk mengubah tempo. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kemampuan mengumpan yang harus dimiliki seorang Regista dan cara utama mereka untuk mengontrol jalannya permainan.

Secara umum, Regista bukanlah peran yang bisa diajarkan dalam akademi sepakbola. Ia membutuhkan kematangan pelakonnya, seperti yang dapat dilihat dari sederet atribut yang dibutuhkan di atas. Regista harus memiliki pemahaman menyeluruh terhadap permainan sepakbola. Seorang pelatih atau pemandu bakat dapat melihat bakat Regista dalam seorang pemain belia, namun untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan serta kemauan dari sang pemain sendiri untuk melakoni peran tersebut.

Xabi Alonso : Regista Sejati Nan Komplit

Salah satu Regista murni kawakan lainnya, Xabi Alonso pernah membuat pernyataan dalam satu wawancara. “Semakin anda menua, anda akan berlari lebih sedikit dan berpikir lebih banyak” papar pemain asal Spanyol tersebut. “Seiring bertambahnya usia, anda harus memiliki lebih banyak ketenangan. Anda harus membaca permainan lebih baik dan juga memahaminya”

Namun setidaknya saat ini, di level tertinggi, sepakbola menuntut lebih banyak dari para pemainnya; bek harus memiliki naluri menyerang, sementara penyerang harus juga piawai merebut bola dari kaki lawan. Di sinilah peran Regista akan sangat dibutuhkan, sebagai penyeimbang antar kedua hal tersebut. Jika selama ini Regista selalu identik dengan gelandang veteran yang beradaptasi, bukan tidak mungkin jika ke depan ia akan dianggap sebagai salah satu lakon utama yang menuntut seorang spesialis untuk memerankannya.

 

Dampak..

Bukan hanya AC Milan dan Italia dengan Andrea Pirlo nya yang meraih kesuksesan dengan mendapuk seorang Regista pada porosnya. Setelah Italia pada Piala Dunia 2006, Spanyol pun langsung meraih gelar Piala Dunia dan Piala Eropa berturut-turut pada tahun 2008 dan 2010 dengan Xavi sebagai ‘sutradara’. Italia dan Spanyol bertemu di final Euro 2012 saat keduanya mengaplikasikan sistem Regista. Lebih jauh lagi, 5 dari 6 pemenang Liga Champion dalam rentang waktu 2007 – 2012 menggunakan poros Regista.

Di kancah domestik pun demikian. Manchester United dan Chelsea menjadi juara Liga Primer Inggris masing-masing tahun 2008 dan 2012 dengan memfungsikan Paul Scholes dan Frank Lampard sebagai Regista. Hanya Internazionale Milan era Jose Mourinho yang mampu meraup kesuksesan di tahun 2010 tanpa menggunakan sistem ini, melainkan bergantung kepada gelandang tengah serang konvensional dalam diri Wesley Sneijder.

Juara Serie-A periode 2010-2013, yakni Juventus dua kali dan AC Milan sekali, seluruhnya menggunakan poros Regista sebagai pusat permainan, dan siapa pelakonnya kala itu? Andrea Pirlo.

‘Spielberg’ nya Sepakbola?

 

Ke Depan..

Di era sepakbola saat ini yang semakin rumit dengan beragam peran dan strategi baru mulai dari ‘False Nine’, ‘Inverted Winger’, Counter-Pressing dan lain sebagainya, kemurnian peran Regista, ironisnya, bisa saja kembali tersisihkan. Terlebih para pemeran utamanya, seperti Pirlo, Xabi Alonso, dan Xavi Hernandez sudah mendekati masa akhir sebagai pemain, atau bahkan sudah ada yang gantung sepatu.

Meski demikian, Regista akan selalu menjadi fenomena kontemporer dalam sepakbola. Ia adalah paradoks yang membuat dunia kulit bundar menjadi lebih menarik, dengan kompleksitas dalam kesederhanaannya, dengan pemahaman terhadap permainan yang terkadang membuat pelakonnya lebih atraktif untuk disimak ketimbang dribel, step-over, back-heel atau teknik-teknik kaki ciamik lainnya. Ia adalah perwujudan keagungan intelejensia dalam olahraga yang dapat menjadi penentu kedigdayaan sebuah tim dan pengaruhnya tak akan lekang dimakan waktu sekalipun.

 

 

Comments
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top