BERITA BOLA

Menghitung Dampak Pergantian Manajer Premier League

Tak terasa kompetisi Premier League sudah berlangsung 19 pekan. Artinya, setengah perjalanan sudah dilalui para klub. Tinggal setengah lagi yang perlu dituntaskan. Manchester City nampak perkasa di puncak klasemen dengan raihan 55 poin. The Citizen terpaut 13 angka dari peringkat kedua Manchester United. Jarak antar kedua tim menjadi yang paling lebar sebelum natal sepanjang sejarah Premier League.

Catatan lain yang tak kalah menarik adalah bongkar pasang juru racik tim. Ketatnya Premier League memakan korban sejumlah 7 orang. Manajer pertama yang dipecat adalah Frank de Boer yang membesut Crystal Palace. Ia hanya diberi kesempatan hingga pekan keempat. Sementara nama terakhir yang didepak adalah manajer Swansea City Paul Clement yang kena phk pada pekan ke-18.

Nama lain yang didepak adalah Craig Shakespeare (Leicester City), Ronald Koeman (Everton), Slaven Bilic (West Ham United), dan Tony Pulis (West Bromwich Albion).

Pemecatan manajer bertujuan untuk meningkatkan performa tim. Harapannya, manajer baru dapat mengangkat posisi tim di papan klasemen dan menghindarkan diri dari zona degradasi. Maka melihat dampak dari pergantian manajer penting untuk mengukur apakah keputusan tersebut efektif atau tidak.

Pergantian manajer Everton nampak lebih efektif dibanding tim lain. Pasca memecat Koeman, Everton yang sempat ditangani caretaker David Unsworth memilih Sam Allardyce sebagai peracik strategi. Masuk pada pekan 12, Big Sam meraih rata-rata 2,20 poin per laga dan belum sekalipun kalah. Poin yang didapat Everton meningkat 0,80 per laga.

Nama lain yang dipandang efektif adalah manajer Leicester Claude Puel. Puel yang ditunjuk pada pekan ke-9 mampu meraih 1,60 poin per pertandingan dan meningkatkan poin tim yang diasuhnya 0,40 per laga. Roy Hodgson yang menukangi Crystal Palace juga mendapat hasil lumayan dengan meraih 0,60 poin per laga dan meningkatkan poin anak asuhnya 0,60 poin per laga.

Nama lain mendapat hasil kurang memuaskan. David Moyes yang menggantikan Bilic memang memperoleh 0,80 poin per laga namun perolehan poin timnya menurun 0,20 poin. Sementara Pardew yang sebagai manajer West Brom hanya meraih 0,40 poin per laga dan tidak menambah poin anak asuhnya.

Masih ada setengah lagi yang bakal dilalui para manajer. Mereka harus bekerja keras agar tim yang dibesut tidak terlempar dari ganasnya Premier League.

Comments
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top