BERITA BOLA

Kisah Hebat Perjuangan Si ‘Manusia Kapal’ Mamadou Coulibaly Hingga Bermain Di Serie A

Gelandang muda Pescara, Mamadou Coulibaly, mengisahkan perjuangannya untuk ‘kabur’ dari Senegal dan mengejar impiannya sebagai pemain sepakbola profesional di Eropa. Berikut penuturan sang ‘manusia kapal’ mengenai perjalanan yang mengubah nasibnya.

Coulibaly mencatat penampilan yang mengesankan kala timnya, Pescara mampu menahan imbang klub raksasa AC Milan di lanjutan Serie A pekan silam. Pertandingan tersebut juga ditandai blunder fatal Gianluigi Donnarumma yang membuat Milan harus puas berbagi poin. Dalam sesi wawancara selepas pertandingan, pemuda jangkung tersebut mengisahkan napak tilas perjuangannya hingga bisa tiba di Eropa dua tahun silam.

“Saya pergi dengan sebuah tas punggung” kata Coulibaly membuka kisahnya kepada Football Italia. “Saya hanya memberi tahu sahabat saya, Mamadou, kedua orang tua saya berpikir saya ada di sekolah. Saya matikan telepon saya dan tidak memberikan kabar selama 3 atau 4 bulan, mereka pikir saya sudah mati” paparnya.

Sebenarnya, Coulibaly bukan berasal dari keluarga miskin. “Saya punya cukup untuk makan di rumah. Ada saya bersama dua adik perempuan. Ayah saya tidak mau saya bermain (sepakbola), baginya, pendidikan adalah yang paling penting. Kami adalah keluarga pengajar..ayah saya adalah guru pendidikan fisik, dan beberapa tante saya adalah profesor di berbagai bidang” ujar Coulibaly. “Dia (sang ayah) berkata bahwa ia akan membawa saya ke beberapa tim Eropa, namun itu hanya untuk menjaga saya agar tetap diam. Saya mempertaruhkan nyawa saya untuk sepakbola, tapi saya lakukan ini untuk mereka. Tak lama lagi, saya akan bisa membantu mereka” paparnya mantap.

Kemudian, Coulibaly berkisah mengenai perjalanan panjangnya dari Senegal hingga Eropa. Semua bermula saat ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa ia bisa menumpang kapal menuju Eropa setelah berlayar dari Dakar menuju Maroko.

“Saya pergi ke kapal tersebut dengan bus. Saya membayar tiket dari Dakar ke Maroko, namun setelah itu uang saya habis dan saya harus tidur di pelabuhan Maroko. Kemudian seorang pria menanyai saya setelah beberapa hari tidur di jalanan, saya katakan bahwa saya mau ke Eropa, lalu pria tersebut berkata ia memiliki kapal menuju Prancis dan mengizinkan saya ikut. Perjalanan (dengan kapal) tidaklah berbahaya, tapi saya tidak bisa berenang. Jika saya jatuh, saya pasti mati” tutur Coulibaly sendu.

Coulibaly pun akhirnya tiba di kota Eropa pertamanya, Marseille di Prancis. Ia sempat tinggal sejenak bersama kerabatnya di Grenoble, namun hasrat yang besar untuk menjadi pebola profesional membuat Coulibaly kembali mengepak kopernya dan melanjutkan perjalanan hingga ke Italia.

“Permulaan saya di Livorno adalah yang tersulit. Seorang pria membawa saya kesana untuk diperkenalkan kepada sejumlah tim, kemudian di suatu pagi saya terbangun di hotel dan mendapati pria tersebut sudah tidak ada. Saya tidak punya uang, tidak kenal siapapun dan tidak bisa bahasa Italia” kenang Coulibaly.

Tidak menyerah sampai disana, Coulibaly pun rutin bermain bola di pantai hingga pemandu bakat Livorno menemukannya. Tim Serie B tersebut pun tertarik meminangnya, namun sayang kala itu Coulibaly tidak memiliki dokumen apapun sehingga dirinya urung bergabung dengan Livorno. Keadaan pun semakin memburuk setelah peristiwa itu.

“Saya tidur di jalanan dan mungkin (hanya) satu kali sehari saya dapat makan sandwich” ungkapnya. “Saya berada di Roma, dan beberapa orang bilang banyak pemain asal Senegal yang berlatih di Pescara, jadi saya naik kereta tanpa membayar tiket kesana”

Di Pescara, Coulibaly tidur selama tiga hari di lapangan olahraga hingga polisi menemukannya dan membawanya ke rumah anak-anak angkat setempat. Di sana, ia berhasil melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan dan akhirnya berhasil bergabung dengan Pescara setelah lolos masa percobaan (trial).

Hanya dua kali Coulibaly bermain untuk tim junior Pescara, ia langsung didapuk sebagai pemain tim utama sebagai pengganti di laga melawan Atalanta dua minggu silam. Kemudian, minggu lalu, namanya langsung melambung tinggi setelah bermain impresif selama 90 menit penuh menghadapi Milan. Coulibaly bermain dengan penuh tenaga, ketenangan serta tehnik yang mampu meredam lini tengah dan depan Milan. Gilanya lagi, laga melawan Milan merupakan laga sepakbola keempat sepanjang hidupnya.

“Saya mengenyam sedikit pendidikan sepakbola di Senegal saat kecil dan bermain di jalanan, selebihnya adalah dari TV, saya selalu menyaksikan banyak laga dan mempelajari pergerakan pemainnya. Sepakbola datang secara alamiah bagi saya” cetus Coulibaly, yang mulai dibanding-bandingkan dengan Paul Pogba karena kesamaan postur, posisi dan gaya permainan.

“Kadangkala orang masih memanggil saya ‘manusia kapal’ untuk menghina saya, namun saya tidak bereaksi. Itulah bagaimana saya bisa ada di sini, dan saya memang tidak lebih baik dari orang lain yang tiba di Itali dengan sebuah perahu” pungkas Coulibaly mantap.

Saat ini, di atas kertas, Pescara kemungkinan besar akan terdegradasi di akhir musim, namun bagi Mamadou Coulibaly, hal itu dapat berarti awal petualangan baru lagi di Serie A, bersama tim yang lebih besar tentunya.

 

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top