BERITA BOLA

Kenapa Kembalinya Deulofeu Ke Barcelona Adalah Ide Buruk?

Pekan silam, Barcelona baru saja mengaktifkan klausul beli-kembali (buyback clause) salah satu mantan pemain akademinya, Gerard Deulofeu. Di permukaan, transfer ini sah-sah saja dilakukan, mengingat kedua pihak tersebut memang awalnya pernah bersama-sama, namun jika ditilik kembali secara mendalam, kembalinya Deulofeu ke Camp Nou bisa jadi membawa petaka, terutama bagi kelangsungan karir sang pemain. Mengapa demikian?

Sejatinya, banyak pengamat sepakbola yang menyukai Gerard Deulofeu. Di era sepakbola modern ini, ia satu dari segelintir pemain yang memiliki tipe permainan individual di area sayap, dengan segudang trik dan kecepatan saat bola bergulir di antara kedua kakinya. Banyak momen terbaik Deulofeu bukan datang dari umpan-umpan pendek, melainkan kemampuannya untuk melewati satu-dua benteng pertahanan lawan dengan footwork yang ciamik, baru kemudian ia melepas tembakan ke arah tengah dan umpan lambung, ataupun ketika kehilangan bola, timnya tidak banyak terpengaruh bila secara alami Deulofeu difungsikan sebagai formasi sayap ‘bebas’ di sisi lapangan.

Deulofeu seolah bermain dengan kepercayaan bahwa berhasil atau tidaknya timnya meraih kemenangan hanya tergantung kepada apa yang dilakukannya dengan bola ketika ia menguasainya. Ini bukanlah sesuatu yang buruk, bila tim yang dibelanya dapat mengakomodir filosofi permainannya. Jika diibaratkan dalam sebuah band musik, Deulofeu adalah personel yang bisa memaksimalkan keberadaannya jika ia dibiarkan melakukan solo-solo panjang sendirian (lengkap dengan kesalahan-kesalahannya) dan menentukan tempo serta arah musikal band tersebut, namun nyatanya sangat jarang ada tim yang mau memberikan ruang semacam itu untuk Deulofeu sejauh ini.

Ia gagal kala pertama bermain di Barcelona tahun 2011 silam, dan kemudian cukup berhasil di Everton era Roberto Martinez karena sang pelatih memberikan ruang untuk mendukung aksi individualnya, namun setelahnya, di Sevilla dan Everton era Ronald Koeman, Deulofeu kembali melempem karena pelatih dua tim terakhir lebih mengedepankan kerjasama serta umpan-umpan pendek untuk membangun serangan. Lalu di AC Milan, yang dibelanya dengan status pinjaman, sebetulnya Deulofeu cukup mendapat kebebasan lagi di bawah komando Vincenzo Montella, tapi anehnya ia malah memutuskan untuk menerima pinangan Barcelona alih-alih melanjutkan karir di San Siro. Nostalgia masa muda serta kecintaan pada Blaugrana disinyalir menjadi alasan utama Deulofeu bersedia untuk ‘bersemi kembali’ bersama Barca.

Sekarang kita lihat keadaan di Barcelona. Tim kebanggaan Catalan tersebut bisa dikatakan saat ini memiliki tiga penyerang kelas wahid dalam diri ‘trio MSN’; Lionel Messi, Neymar dan Luis Suarez. Selain piawai melakukan kerjasama, dari segi kemampuan individu, mereka tak diragukan lagi berada di level terbaik, dan ketiga pemain berdarah Latin tersebut cukup jarang absen. Hal ini berarti Deulofeu datang untuk menjadi pilihan keempat atau kelima pelatih Ernesto Valverde di lini depan, dan seperti yang kita ketahui, pemain rotasi di Barcelona harus bisa tetap sabar menghabiskan sebagian besar musim di bangku cadangan, dan memainkan sepakbola ‘aman’ yang berpusat pada para pemain megabintangnya sebagai pengambil keputusan akhir. Ini sangat bertolak belakang dengan gaya bermain ‘solo’ seorang Gerard Deulofeu. Pun, kecil kemungkinan bagi Valverde untuk merombak ulang formasi 4-3-3 andalan Barcelona (ke 4-2-3-1, misalnya) demi memainkan Deulofeu di tim inti setiap pekan.

Untuk semua alasan di atas, saat ini Deulofeu bukanlah pemain terbaik untuk Barcelona, dan Barcelona bukanlah klub terbaik untuknya. Jika pun keputusan sang pemain untuk pindah adalah dengan menyadari betul hal itu, karirnya Deulofeu lah yang lebih terancam ketimbang klub yang ‘hanya’ mengeluarkan dana sebesar 12 juta Euro untuk menebus kembali salah satu ‘anak hilang’ mereka yang tercecer di Eropa tersebut.

Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Deulofeu adalah pemain sepakbola yang brilian, namun ia harus menemukan klub yang tepat yang mau memaksimalkan potensinya.

Comments
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top