BERITA BOLA

False 9 : Formasi Serang ‘Tanpa Kepala’ Nan Mematikan

Evolusi taktikal dalam sepakbola adalah hal menakjubkan tersendiri. Sejak permainan ini pertama kali dimulai berabad-abad lalu, sepakbola telah mengalami beragam perubahan seiring perkembangan jaman dan terus melahirkan bentuk-bentuk baru yang revolusioner, seperti halnya peran ‘False 9’. Berikut Bolazola jabarkan secara ringkas seluk-beluk peran tersebut, seperti apa awal mulanya, siapa sosok yang paling cocok memerankannya, hingga kedigdayaannya di kancah internasional.

Pemahaman Istilah..

Secara bebas, ‘False 9’ dapat diterjemahkan sebagai ‘Si 9 Palsu’, yang mengacu pada nomor punggung pemain. Angka tersebut dipilih karena biasanya  dipakai oleh penyerang murni tradisional dalam sepakbola. Jika seorang pemain mengenakan nomor punggung 9 tapi tidak bermain di ujung tengah penyerangan melainkan melebar ke segala arah, maka ia bisa disebut nomor 9 yang bukan 9 alias palsu. Mungkin jika ditilik lagi, pemeran ‘False 9’ semestinya diberikan nomor punggung ‘9,5’, namun tentu saja hal tersebut tidak memungkinkan. False 9 bukanlah ‘kartu as’ atau ‘ujung tombak’, melainkan ‘senjata rahasia’ yang mematikan.

Latar Belakang..

Mathias Sindelar : Pelakon ‘Prototype’ Peran False 9

Sebetulnya, jauh sebelum istilahnya memiliki nama, peran False 9 sudah dimainkan sejumlah penyerang yang memang terlampau maju dari eranya. Contohnya Mathias Sindelar; striker Austria yang tersohor karena kemampuannya untuk menerima bola dan berduel di antara bek tengah lawan. Kemudian ada pula predator Hungaria, Nandor Hidegkuti, yang piawai memainkan apa yang kemudian berevolusi menjadi peran ‘Deep-Lying Forward’.

Fransesco Totti : Il Capitano Yang Hidupkan False 9 Era Modern

Akan tetapi, nyawa False 9 di era modern dihembuskan oleh pelatih Italia, Luciano Spaletti. Kala menukangi AS Roma di tahun 2006 silam, Spaletti sukses mengejawantahkan peran tersebut dalam permainan Fransesco Totti dan mencuri perhatian para pakar sepakbola di seluruh dunia.

Era Kejayaan..

Setelah Totti gemilang dengan bermain sebagai False 9, klub-klub Eropa lain pun langsung bereksperimen dengan peran tersebut. Di Liga Inggris, Sir Alex Ferguson diketahui sempat memainkan skema ‘kepala buntung’ (tanpa striker utama) dengan Carlos Tevez, Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney bergantian meneror pertahanan lawan dari dua per tiga kotak enam belas meter. Begitu pula Arsene Wenger, yang menemukan sosok tepat dalam diri meneer Robin Van Persie untuk mengisi peran tersebut di tim Meriam London. Namun alih-alih tidak memakai striker, Wenger masih memegang pemikiran tradisionalnya dan kerap menaruh seorang tandem penyerang murni untuk menemani Van Persie, baik Eduardo maupun Niklas Bendtner.

Guardiola dan Messi : Menyempurnakan Formula ‘Si 9 Palsu’

Meski banyak pelatih brilian tim Eropa mencoba menjabarkan False 9 dalam sistem permainan mereka, tak ada yang begitu sempurna mengaplikasikannya selain Pep Guardiola dan Barcelona. Dan sosok yang paling cocok memainkan peran tersebut? Tak lain tak bukan adalah Lionel Messi. Kemampuan Si Kutu Atom untuk bermain di kedalaman, menerima bola, mengumpan dan mengobrak-abrik pertahanan dengan dribelnya, serta strategi tiki-taka yang dimainkan para rekannya dengan Messi sebagai poros, telah menjadi kunci kedigdayaan Barcelona selama bertahun-tahun di bawah era Guardiola.

Gotze dan Muller di final Piala Dunia 2014; Penyerang tapi bukan Striker

Sementara di kancah internasional, keampuhan False 9 semakin terbukti sebagai skema ‘buntung’ nan mematikan. Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2012 dengan mengempaskan Italia 4-0 di partai final diketahui ‘hanya’ memainkan Cesc Fabregas sebagai tombak terdepan penyerangan. Sementara dua tahun berselang, giliran Jerman yang berjaya di ajang Piala Dunia kala pemain sayap Mario Gotze mencetak gol semata wayang Tim Panser ke gawang Argentina di laga puncak. Gilanya lagi, pelatih Joachim Low hanya memasukkan satu nama striker; yakni pemain veteran Miroslav Klose dari 23 nama yang berlaga di kompetisi tersebut!

 

Cara Kerja..

False 9 Dalam Skema : Beraksi Dalam Kepungan

Lalu seperti apakah cara kerja seorang False 9? Untuk melihat hal ini, mari kita gunakan Lionel Messi untuk menjadi acuan, secara dialah yang bisa dikatakan False 9 tersukses di jagat sepakbola. Berbeda dengan striker tradisional yang berdiri sebaris dengan lini pertahanan lawan, False 9 berada sedikit di depan para bek. Tidak mengandalkan kekuatan fisik untuk berduel, maupun akselerasi untuk menembus jebakan offside, seorang False 9 menerima bola dan mengolahnya di tengah kepungan para penjaga. Maka dari itu, peran seorang False 9 sangatlah kompleks dan integral. Kemampuan mengumpan menjadi kunci utama di sini. False 9 harus mampu mengalirkan bola kepada rekan-rekannya dari keadaan terjepit, atau jika tak ada teman yang dituju, menembus kawalan para bek dengan kemampuan dribelnya dan menciptakan peluang tersendiri. Ya, False 9 memang mengawali permainan dari depan dua bek tengah, namun pada progresinya, ia bebas beroperasi di semua sisi untuk membuka ruang serta menarik perhatian para bek hingga formasi mereka kocar kacir.

 

Contoh konkrit keberhasilan Messi sebagai False 9 dapat dilihat dari pertandingan El Clasico kontra Real Madrid tahun 2010 silam yang berakhir dengan kemenangan telak 5-0 untuk Barca. Messi memang tak mencetak gol di laga tersebut, tapi lima gol yang berhasil diceploskan rekan-rekannya sedikit banyak merupakan andil Messi yang menciptakan ‘prahara rumah tangga’ di pertahanan Madrid meskipun kala itu dihuni para bek veteran berkelas dunia seperti Ricardo Carvalho dan Pepe.

 

Pada dua gambar cuplikan di atas, lingkaran hitam adalah bek Madrid dan lingkaran merah adalah Messi. Perhatikan betapa amburadulnya garis pertahanan El Real karena kebingungan mengikuti pergerakan Messi yang berperan sebagai False 9. Kedua gambar tersebut adalah posisi terakhir sebelum gol tercipta oleh Barcelona.

Messi bisa sukses sebagai False 9 karena dua hal; pertama, atribut individu yang lengkap, diantaranya dribel, umpan, kecepatan, finishing (jarak dekat dan jauh), serta sentral gravitasi tubuh yang sempurna. Kedua; rekan-rekannya yang memainkan pola operan cepat yang konstan dan jitu, sehingga memecah perhatian pemain bertahan dari sang False 9 sendiri—jika pelakonnya terus menerus berada dalam tekanan sepanjang pertandingan, maka peran tersebut akan kehilangan esensi utamanya bukan? Spalletti sendiri gagal memaksimalkan Totti karena pola permainan dan kualitas umpan dan pertahanan para pemain Roma lainnya kurang mendukung skema tersebut.

False 9 juga membutuhkan peran keempat penyisir lapangan (dua sayap dan dua full back) sebagai penopangnya. Barca pun beruntung di era itu mereka memiliki Alexis Sanchez, Jordi Alba, Pedro, Cristian Tello dan Isaac Cuenca untuk membuat perhatian para bek  tidak terfokus pada Messi semata; ditambah lagi para playmaker brilian seperti Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Gerard Pique; yang handal mengatur ritme dari kedalaman lini pertahanan.

Intinya, False 9 merupakan salah satu lakon tersulit untuk dimainkan dalam sepakbola. Jika seorang pemain tidak memiliki atribut seperti yang disebutkan di atas, kecil kemungkinan ia bisa mengemban peran tersebut dengan baik.

Namun jika mampu dimainkan secara tepat guna, False 9 akan menjadi mimpi buruk bukan hanya bagi bek, tapi juga formasi pertahanan yang dibesut pelatih lawan. Karena terbiasa mengawal langsung seorang striker, para bek yang berhadapan dengan seorang False 9 harus sangat lihai memanfaatkan imajinasi mereka sepanjang laga, karena yang mereka jaga bukan hanya pemain, melainkan juga ruang gerak.

Masa Depan..

Kendati bisa dikatakan revolusioner, formasi False 9 tidaklah serta merta menjadi populer dan diterapkan secara umum di kancah sepakbola. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa skema tersebut membutuhkan seorang pemain dengan kemampuan luar biasa untuk mengisi peran utamanya. Sejumlah pakar taktik pun mulai menemukan cara yang cukup efektif untuk menghadapi skema False 9, yakni dengan menempatkan dua gelandang bertahan sebagai ‘poros ganda’ (double pivot) untuk melacak pergerakan ‘Si 9 Palsu’ secara bergantian. Skema ‘Parkir Bus’ juga dinilai cukup ampuh untuk meredam keampuhan False 9.

Parkir Bus : Cukup ampuh meredam ‘Si 9 Palsu’

Kendati demikian, tak bisa dipungkiri kehadiran False 9 menambah semarak evolusi strategi sepakbola, dan telah membuat permainan ini semakin menarik serta indah untuk disaksikan. Sepakbola bukanlah semata mengenai gol atau dribel-dribel ciamik; ia adalah bagaimana memanfaatkan momentum, ruang, dan waktu untuk menciptakan keberadaan dari ketiadaan.

 

 

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top