BERITA BOLA

David Beckham: Kisah Gemilang Raja Tendangan Bebas Nan Rupawan

Sebelum era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dunia sepakbola modern sudah pernah memiliki sosok yang tenar bukan kepalang. Dialah David Beckham; putra asli Inggris yang menaklukkan jagat dengan kaki kanan dan parasnya yang tampan. Saking terkenalnya, banyak khayalak—terutama mereka yang terlahir setelah tahun 2000, kadung mengasosiasikan nama sang pebola dengan mitos atau legenda. Berikut Bolazola coba menelisik lebih dalam mengenai latar belakang si raja tendangan bebas; mulai dari masa kecil, era kejayaan, hingga bagaimana ia menjadi makin ternama setelah menikah dan mempunyai empat orang anak saat ini.

‘Mekar’ Berkat Dukungan Orang Tua..

Bayi Beckham Di Gendongan Bunda Tercinta; Unyu Banget Ya..

David Robert Joseph Beckham dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1975 di Leytonstone, London. Ayahnya, David Edward ‘Ted’ Alan Beckham adalah seorang tukang instalasi dapur sementara sang ibunda, Sandra Georgina West, berprofesi sebagai penata rambut. Sebagai anak laki-laki semata wayang di antara dua orang saudara perempuan, Beckham mewarisi kegemaran ayahnya dalam permainan sepakbola. Keluarga Beckham adalah fans berat klub Manchester United, yang bukan kebetulan menjadi tempat dimana David Beckham meniti karir hingga ke tingkat dunia.

Beckham kecil mulai mengenal sepakbola kala Ted memberinya sebuah ‘bola’ dari gumpalan kaus kaki. Tak hanya memainkannya sesuka hati hingga bosan seperti bocah seusianya, David Beckham sudah mengenal ‘etos kerja’ sejak usia empat tahun. Sang bocah bersama ayahanda kerap menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan hanya untuk mengasah kemampuannya dengan bola; terutama dalam hal tendangan sudut dan tendangan bebas; dua hal yang paling digemari oleh Beckham..dan dunia pun kelak mengetahui hal tersebut.

Keluarga Beckham; Sepakbola Sudah Mendarah Daging

Ted Beckham sendiri mendukung hobi putranya dua ratus persen. Rasa letih setelah seharian bekerja ditepisnya hanya demi untuk mengantar dan menemani Beckham berlatih menyarangkan bola ke gawang dari sudut-sudut lapangan; setiap hari, setiap malam. Bagi sang istri, Sandra West, kecemasan sudah menjadi makanan sehari-hari kala dua lelaki kesayangannya itu kerap pergi selepas senja dan baru kembali nyaris tengah malam. Namun selayaknya Ted, ia tetap mendukung kegiatan anak lelaki tercintanya itu.

 

Merajut Asa Di Teater Impian..

Di usia 7 tahun, Ted dan Sandra memutuskan untuk mendaftarkan David Beckham ke akademi muda Manchester United, yang berjarak sekitar 200 mil dari kediaman mereka. Setelah nyaris tiga tahun penuh hanya bermain bersama sang ayah, Beckham akhirnya mendapat kesempatan untuk mengasah bakatnya secara professional.

Beckham Cilik; Kemampuannya Sudah Diganjar Prestasi

Beckham pun menunjukkan peningkatan pesat dan mulai mencuri perhatian. Di usia 13 tahun, ia memenangkan penghargaan prestisius dari ajang Unjuk Kemampuan Nasional (National Skills) yang dibesut Sekolah Sepakbola Bobby Charlton. Berkat pencapaian itu, sejumlah pemandu bakat Manchester United menyarankannya untuk melakukan trial (uji coba) untuk bergabung dengan tim muda klub tersebut. Beckham tak berpikir dua kali untuk menerima ajakan itu. Di usia 16 tahun, ia pun resmi bermain di divisi muda Manchester United. Disanalah ia mulai berkenalan dengan sejumlah pemain yang kemudian akan sama-sama mencetak sejarah; diantaranya Gary Neville, Ryan Giggs Paul Scholes, dan Nicky Butt.

Beckham Remaja; Sempat Membela Klub Divisi Tiga

Kendati memiliki segudang bakat yang kentara, Beckham tak serta merta masuk ke tim inti United yang kala itu sudah bertabur bintang seperti Dennis Irwin, Bryan Robson dan Eric Cantona. Setelah musim debutnya yang bisa dikatakan kurang mulus, Beckham harus menjalani satu musim berikutnya di tim divisi tiga, Preston North End. Namun hal itu tak menjadi masalah baginya; Beckham yakin, suatu saat ia akan menjadi punggawa di tim inti Setan Merah, dan ia sama sekali tidak salah. Di Preston pun Beckham mulai membangun reputasi sebagai eksekutor bola mati mematikan. Dari sepasang gol yang dicetaknya untuk klub tersebut, satu diantaranya berasal dari tendangan sudut langsung.

 

Kartu As Setan Merah Dalam Dan Luar Lapangan..

Di musim 1995 / 1996, pelatih Alex Ferguson memutuskan untuk mengangkat para punggawa muda dari akademi United ke tim inti, menyusul hengkangnya sejumlah bintang veteran mereka seperti Paul Ince, Mark Hughes dan Andrei Kanchelskis. Hal tersebut sontak langsung menjadi sorotan dan mendapat cibiran serta tentangan dari khayalak luas, termasuk fans klub sendiri. Namun Ferguson bergeming kendati ia sebenarnya mampu mendatangkan pemain sekaliber Roberto Baggio dan Marc Overmars. Alhasil, nama-nama ‘asing’ seperti Neville, Scholes, Butt dan Beckham diumumkan sebagai pemain tim utama untuk musim tersebut.

Beckham; Mulai Bersinar Di ‘Teater Impian’

United pun mengawali musim dengan buruk; mereka dibantai 3-1 oleh Aston Villa, dan Beckham mencetak satu-satunya gol penghibur di laga itu. Namun setelahnya, United langsung bangkit dan meraih poin demi poin penting lewat para jebolan akademinya. Di lapangan, nama-nama tersebut memang bermain sebagai satu kesatuan, namun tak pelak Beckham lah yang paling menonjol. Bukan hanya karena kemampuannya, tapi juga parasnya yang luar biasa tampan. Di musim itu, Manchester United keluar sebagai juara Liga Primer Inggris, dan kritik terhadap keputusan ‘nekat’nya perlahan mulai lenyap satu per satu. Beckham mulai dipandang sebagai bagian krusial dari tim, dan ia pun membayarnya dengan sejumlah kontribusi penting.

Di musim berikutnya, 1996 / 1997, David Beckham semakin menapaki ketenaran baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia membuktikan akurasi tendangan kaki kanannya dengan sebuah gol spektakuler dari garis tengah lapangan kala berhadapan kontra Wimbledon di laga pembuka Liga—gol yang hingga kini disebut sebagai salah satu momen terbaik di dunia olahraga. Gol-gol tendangan bebas cantik pun mulai mengalir dari kakinya.

Kisah Cinta Yang (Terlalu) Indah Untuk Jadi Nyata..

Pada tahun 1996, kala United berada di Moskow, Rusia untuk menjalani sebuah laga penyisihan Liga Champion, Beckham menempati kamar hotel yang sama dengan Gary Neville. Iseng, kedua karib itu pun kemudian menyalakan televisi dan menyaksikan video klip lagu grup Spice Girls ‘Say You’ll Be There’ yang kala itu sedang tenar-tenarnya. “Itu gadis impian saya” ujar Beckham tiba-tiba pada Neville sambil menunjuk ke arah wanita berpakaian kulit ketat berambut hitam pendek. “Saya akan memilikinya suatu saat nanti” tukasnya penuh tekad. Kala itu Neville hanya tertawa bersamanya, namun siapa sangka, omongan tersebut menjadi sebuah ramalan yang dipenuhi sendiri oleh Beckham.

Victoria ‘Posh’ Adams (Tank Top Latex Hitam); Bikin Beckham Kepincut Berat

Di belahan dunia lain, Victoria ‘Posh Spice’ Adam terlihat asyik menggunting-gunting koran dan membuat kliping berita serta foto seorang pemain Manchester United berambut pirang; yang tak lain adalah David Beckham. Ya, rupanya Victoria memang sudah lama pula mengagumi ketampanan sang gelandang sayap, tepatnya setelah diperkenalkan mengenai sepakbola oleh saudarinya. Kedua sejoli ini akhirnya pun bertemu di sebuah pesta lanjutan (after party). Victoria lah yang ngebet mendatangi acara tersebut karena tahu Beckham berada di sana. Setelah perkenalan singkat, keduanya semakin dekat dan tak butuh lama untuk meresmikan hubungan asmara mereka.

 

Beckham & Victoria; Akhirnya Mengikat Janji Sehidup Semati

Media massa senang bukan kepalang dengan hubungan David dan Victoria hingga menjadikan seluruh kegiatan mereka sebagai sumber berita. Bagi Beckham, hal ini berimbas pada kehidupan pribadinya yang kini sudah tidak berada di level ‘pemain sepakbola’ biasa. Ia adalah selebriti, seperti halnya Victoria yang lebih dulu tenar. ‘Posh dan Becks’; demikian julukan media untuk keduanya, akhirnya mengikat janji pada tahun 1998 di sebuah pesta gegap gempita yang (sayangnya) tertutup untuk pers.

Keluarga David Beckham; Utuh dan Bahagia

Dari hasil jalinan kasih tersebut, David Beckham dan Victoria dikaruniai empat orang buah hati; Romeo, Brooklyn, Crupz dan Harper. Kisah pertemuan mereka pun menjadi inspirasi dan disebut ‘terlalu indah’ untuk jadi kenyataan. Di tengah ketenaran, harta serta kehidupan glamor yang dijalani (serta gosip perselingkuhan yang, tentu saja, menerpa David Beckham), keduanya masih berpegang pada janji mereka untuk saling setia, dengan harapan hingga maut saja yang memisahkan.

 

Lengkungan Itu Semakin Menjadi-Jadi..

Di musim 1998 / 1999, David Beckham telah menjelma menjadi sosok yang menakutkan bagi pertahanan lawan. Kendati tidak dibekali kelenturan, kemampuan drible ataupun kecepatan, namun kaki kanan Becks menjadi senjata maut untuk menghabisi para lawan-lawan United. Operan serta umpan silang Becks acapkali memudahkan rekan-rekannya untuk mencetak gol atau menguasai permainan, tapi tendangan bebasnya lah yang paling tak tertandingi.

Beckham Merayakan Gol; Semakin Menggila Bersama Setan Merah

Jika melihat cuplikan gol-gol United di musim 1998 / 1999, terlihat Becks memberi banyak kontribusi baik gol maupun assist. Jika United mendapat hadiah bola mati di jarak 20 meter, dan David Beckham yang menjadi eksekutor; maka sudah hampir dipastikan bola akan melengkung indah dan kemudian meluncur merobek gawang tanpa mampu dihalau kiper. Hal Ini terus berulang hingga United mampu mendobrak sejarah sebagai tim Inggris pertama yang berhasil meraih Treble—tiga gelar sekaligus dalam satu musim. Piala Liga Primer Inggris, Piala FA dan Liga Champion, seluruhnya dapat bertengger dengan gemilang di dalam lemari trofi United.

Beckham dan Piala Liga Champion; Momen Bersejarah Yang Gemparkan Dunia

Beckham memainkan peranan penting di setidaknya dua dari tiga gelar tersebut; kala menghadapi Bayern Munich di final Liga Champion, gol Teddy Sheringham dan Ole Solksjaer berasal dari sepakan sudut yang dilepas Beckham di menit-menit akhir, kemudian di laga pamungkas Liga Inggris kontra Tottenham, tendangan roket Beckham dari jarak 25 yard lah yang memastikan tiga angka bagi United untuk menjadi kampiun Liga. Becks mengakhir musim tersebut bukan sebagai top skorer, bukan sebagai pemain terbaik versi mana pun, tapi legenda yang tak tergantikan.

Beckham Mengambil Tendangan Bebas; ‘Lengkungan’ Yang Jadi Penentu Bagi Timnas Inggris

Di level nasional pun Beckham menunjukkan sinar benderangnya. Ia kerap menjadi sosok penentu di sejumlah laga; termasuk tendangan bebas menit-menit akhir kontra Yunani yang akhirnya meloloskan Three Lions ke ajang Piala Dunia 2002. Di penghujung karirnya, Beckham adalah kapten yang tak tergantikan bagi timnas Inggris.

 

Ketenaran Dan Hubungan-Hubungan Yang Meretak..

Selepas menghantar United meraih treble, David Beckham menjelma menjadi komoditi tersendiri di ranah selebriti. Paras tampan, jalinan kasih dengan biduanita jelita serta tendangan bebas mematikan membuatnya menjadi sorotan publik di seantero dunia. Meski Becks sendiri berupaya keras untuk fokus dan memberikan yang terbaik bagi United, namun tak pelak hal itu membuat kesal Sir Alex Ferguson.

Sir Alex Ferguson; Sayang Beckham, Benci Ketenarannya

Bagi pelatih sepakbola konvensional seperti Ferguson, ketenaran adalah teror yang bisa membahayakan karir seorang pemain dan mempengaruhi kontribusinya untuk tim. Bahkan dalam sebuah wawancara, Ferguson secara tersirat mengatakan bahwa pernikahan Beckham dengan Victoria lah yang menjadi penyebab Becks tidak fokus seratus persen di karir sepakbolanya. Hubungan keduanya pun kian memburuk setelah peristiwa ‘sepatu melayang’ tahun 2002. Menurut sejumlah sumber, Ferguson yang dikenal temperamental tengah murka pada Beckham yang dianggapnya sebagai factor penyebab kekalahan United kontra Arsenal di ajang Piala FA. Entah bagaimana, argumen tersebut berubah menjadi adu fisik setelah Fergie menendang sebuah sepatu hingga melukai pelipis Beckham.

Luka Di Pelipis Beckham; Meretakkan Segalanya

Setelahnya, beredar luas foto-foto Becks tengah berlatih dengan perban di pelipisnya. Sejumlah pengamat mensinyalir bahwa sang pemain sendiri lah yang mengijinkan wartawan serta media untuk mengambil foto luka tersebut dari jarak dekat untuk menyudutkan Ferguson. Tak lama setelah kejadian tersebut, David Beckham hijrah ke Spanyol untuk bergabung bersama Real Madrid.

Kepindahan ke Real Madrid juga menciptakan riak dalam hubungan Beckham dengan keluarganya, terutama sang ayah, Ted, yang kala itu sudah berpisah dengan Sandra. Ted, yang merupakan pencinta garis-keras Manchester United, merasa dikhianati dengan keputusan sang putra tercinta yang dinilainya sepihak. Sementara, Beckham juga tak bisa menerima perceraian ayah dan ibunya, serta menyalahkan Ted atas peristiwa tersebut. Jadilah, kedua insan yang sebenarnya sangat kompak tersebut sempat saling mengalami kepahitan dan tidak berbicara satu sama lain..hingga saat Ted mengalami serangan jantung di usia 59 tahun. Beckham diketahui berada di sisi sang ayah hingga ia meninggal di dalam ambulans sebelum tiba di rumah sakit. Keduanya saling memanfaatkan saat-saat terakhir itu untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat patah.

 

Lebih Besar Dari Sepakbola?

Selepas membela United, Beckham menjadi sesosok journeyman elit. Ia kerap berpindah dari satu tim besar ke tim besar lain; Real Madrid menjadi pelabuhan terakhir dimana Beckham bermain cukup maksimal. Di tengah para bintang dari ‘galaksi berbeda’ seperti Zinedine Zidane, Roberto Carlos dan Raul Gonzales, Beckham menjadi salah satu yang paling terang.

Setelah meninggalkan Madrid di tahun 2007, Becks yang secara fisik telah berusia 32 tahun sepertinya sadar sudah tak bisa lagi memberikan seratus persen untuk sepakbola. Ia pun mulai memainkan olahraga tersebut sebagai ‘hobi’ dan mengimbangi kesibukannya di luar lapangan dengan menjadi duta organisasi-organisasi dunia serta memperlebar pengaruhnya di dunia bisnis. Ya, Beckham amat piawai menjaga tubuh sehingga hingga saat ini pun, ia masih berada dalam kondisi serta postur prima; ditambah lagi parasnya yang semakin matang dan rupawan seiring bertambahnya usia.

Beckham; Makin Tua Makin Tampan

Di LA Galaxy, Beckham mulai sering mengalami cedera dan tak dapat bermain penuh, namun masih mampu menarik perhatian klub besar seperti AC Milan dan Paris Saint Germain. Di klub terakhir, Beckham benar-benar bermain dengan memanfaatkan statusnya sebagai selebriti. Meski demikian, ia diketahui tidak menerima gaji sepeser pun di selama merumput di Paris, seluruhnya ia sumbangkan untuk kegiatan amal. Belum lama ini, Beckham juga mulai tampil di sejumlah film Hollywood sebagai ‘cameo’ atau bintang tamu istimewa; mulai dari trilogi Goal hingga King Arthur besutan sahabatnya, sutradara Guy Ritchie.

Beckham di Film King Arthur; Akhirnya Jajal Seni Peran

Namun yang paling menonjol adalah kemampuan Beckham (dan Victoria) untuk terus bersama-sama sebagai suami istri meski keduanya telah memiliki kekayaan melampaui batas normal. Meski benar bahwa Beckham sempat diterpa isu perselingkuhan berulang kali, Victoria harus juga diberikan pujian tersendiri karena mampu membuat Beckham kembali ke pangkuannya. Selain menjadi suami yang baik, Beckham juga dikenal sebagai sosok ayah idaman yang amat dekat dengan putra dan putrinya, sehingga dianggap sebagai salah satu teladan bagi figur kepala keluarga.

Beckham Berkostum PSG; Klub Terakhir Sebelum Pensiun Dengan Jaya

Di tahun 2013, Beckham mengumumkan pensiun secara resmi dari lapangan hijau. Ia adalah pemain Inggris pertama—dan mungkin satu-satunya yang mampu memenangkan gelar domestik di empat Negara; yakni Inggris, Spanyol, Amerika Serikat dan Prancis. Namun masa-masa di Manchester United tetaplah dipandang menjadi yang terbaik sepanjang karir Beckham.

Lalu kini? Beckham tetaplah selebriti dengan nama besar—bahkan beberapa berargumen ia sudah lebih besar dari olahraga sepakbola sendiri. Ia masih akan terlihat wara-wiri di layar kaca, entah sebagai duta kesehatan atau mempromosikan suatu brand terbaru. Omong-omong soal kepemilikan, Beckham juga dikabarkan akan segera mendirikan sebuah klub sepakbola di Amerika Serikat. Tim itu akan berlaga di Liga Utama dan terafiliasi dengan Universitas Miami.

Terlepas dari seberapa tenarnya ia saat ini, jika menilik ke belakang, kisah kesuksesan David Beckham adalah cerita mengenai hasil kerja keras yang membuat impian menjadi nyata. Membayangkan masa-masa Becks kecil, menendang bola melewati jangkauan sang ayah di sebuah lapangan kecil hingga tengah malam dengan penerangan yang minim, seharusnya membuat kita menyadari, bahwa usaha dan kerja keras sejak dini adalah kunci utama untuk menaklukkan dunia; selain mimpi yang digantung—bukan, dilengkungkan bak tendangan bebas yang melesat tepat ke sasaran dari garis tengah lapangan.

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top