BERITA BOLA

Catenaccio : Kokohnya Sistem Grendel Nan Pragmatis

Beberapa nama sosok dan istilah yang terpatri dalam benak kita pastinya hadir dengan persepsi tersendiri mengenai hal-hal tersebut. Seperti dalam hal sepakbola; bermain indah, mengoper dan mencetak gol adalah hal terpenting dalam permainan tersebut menurut pandangan sebagian besar penikmatnya. Jika anda terus menang dengan skor tipis 1-0, anda memainkan sepakbola yang membosankan; sementara Catenaccio adalah ‘pembunuh’ bagi permainan sepakbola.

Namun apakah selalu demikian? Terutama untuk hal terakhir, sepertinya tidak. Catenaccio adalah bagian dari evolusi sepakbola yang malah membuat permainan menjadi lebih menarik dan kompleks. Berikut Bolazola coba jabarkan secara mendalam mengenai taktik bertahan unik yang sempat menggegerkan Eropa tersebut di eranya. Mari, buka ‘pintu’ pikiran kita untuk menelaahnya bersama-sama.

Dicetuskan Swiss, Disempurnakan Italia..

Karl Rappan; Kreatif karena bosan kalah

Berbeda dari anggapan khayalak umum sepakbola, Catenaccio tidaklah berawal dari Italia, melainkan Swiss. Tepatnya oleh seorang Karl Rappan. Pria yang berprofesi sebagai pelatih semi amatir tersebut ‘nekad’ bereksperimen dengan metode baru karena gerah melihat tim asuhannya kerap disikat oleh tim professional akibat kalah secara fisik maupun teknik di Liga Swiss tahun 1930. Rappan kemudian menggunakan formasi 3-5-2 klasik yang dimodifikasinya dengan menempatkan seorang pemain tambahan di belakang lini bertahan. Dari sinilah istilah ‘Verrou´atau ‘grendel’ lahir, dan mengacu kepada peran pemain ekstra tersebut yang bertugas menyapu bola yang melewati para bek. Hasilnya moncer; Rappan dipanggil untuk menukangi klub papan atas Grasshopper dan kemudian tim nasional Swiss berkat gagasan nyelenehnya tersebut.

Nereo Rocco : Raja Gila penyempurna grendel Rappan

Satu dekade kemudian, liga Italia dihebohkan oleh juru taktik jenius Nereo Rocco, yang berhasil membawa Padova promosi dari Serie B dan langsung mengakhiri musim debut divisi utama dengan berada di peringkat tiga satu tahun berikutnya. Padahal kala itu, skuad Padova termasuk yang paling sedikit dibanding tim lain. Peristiwa ini diikuti dengan apa yang bisa disebut sebagai kemunculan awal Catenaccio, sepuluh tahun berselang.

 

Helenio Hererra Dan ‘Grendel’ Yang Digdaya..

 

Pelatih asal Argentina, Helenio Herrera pusing bukan kepalang. Pasalnya, di musim perdananya melatih Internazionale Milan, ia tak mampu meneruskan kiprah positifnya. Herrera, yang sebelumnya sukses di Spanyol bersama Atletico Madrid dan Barcelona, menemukan bahwa strategi penguasaan bola (tiki taka purba?) yang diusungnya tak berdaya di hadapan kerasnya Liga Italia. Inter hanya berhasil dibawanya finish di peringkat tiga musim 1960 / 1961 dengan sejumlah hasil memalukan, termasuk digunduli Juventus dengan skor ala rugbi 9-1. Pun di musim keduanya juga demikian; Herrera secara pahit harus mengakui keunggulan tim rival sekota AC Milan yang berhasil merengkuh scudetto di bawah kendali pelatih anyar mereka; Nereo Rocco.

Helenio Herrera : Sukses Mempopulerkan Catenaccio

Di musim ketiga, Herrera yang masih dipercaya untuk menukangi Inter tak patah arang. Belajar dari kesalahannya, ia mulai menerapkan pemikiran pragmatis, terinspirasi dari keberhasilan Rocco musim lalu. Gelandang bertahan Armando Picchi diubah perannya menjadi bek di belakang lini pertahanan, dan diinstruksikan untuk bermain bebas menghalau bola yang bergulir ke zonanya. Posisi ini merupakan cikal bakal peran ‘libero’ atau ‘sweeper’ yang tetap bertahan hingga era 90an.

Namun berbeda dengan Rocco, Herrera membangun taktik ini dengan formasi 5-3-2 yang cukup fleksibel meski sangat terorganisir. Para pemain harus mempertahankan posisi mereka sepanjang pertandingan, termasuk pergantian yang dilakukan tergantung kondisi.

Selain ditopang gelandang dan playmaker (fantasista) yang istimewa dan kompak, kunci utama keberhasilan Catenaccio Herrera adalah dua wingernya yang luar biasa gentas. Di kanan, Herrera mengandalkan pemain Brasil Jair da Costa, sementara di kiri (bawah) ada Giacinto Facchetti, keduanya kerap bertransformasi sebagai penyerang tambahan sepanjang laga yang dimainkan, dan memberikan keseimbangan serta kelenturan bagi ‘Grendel’ pragmatis nan kaku yang diusung Herrera.

Skema ‘Grendel’ Inter Besutan Herrera : Ampuh sampai bertahun-tahun

Dengan pola ini, Herrera berhasil membawa Inter menyabet sejumlah trofi bergengsi dalam rentang 8 tahun; diantaranya 3 gelar Serie A, 2 gelar Piala Interkontinental dan 2 gelar Piala Europa. Selama masa itu, Inter kerap menang dengan skor tipis 1-0, 3-2 hingga 4-3, namun secara keseluruhan, senantiasa berhasil meredam permainan tim-tim yang mengandalkan ujung tombak ganas berteknik tinggi; di antaranya Real Madrid, Liverpool dan Benfica yang di era tersebut dikenal memiliki penyerang terganas Eropa, Eusebio ‘Mutiara Hitam’ Pereira.

Sayangnya, setelah pindah dari Inter, Herrera tak mampu lagi meraih kejayaan meski mengandalkan taktik yang sama. Hal ini disinyalir para pengamat akibat ia tak menemukan kekompakan seperti yang dimiliki para punggawa Inter di bawah komandonya; yang bukan kebetulan dihuni nama-nama yang nyaris sama hampir selama delapan musim.

 

Bukan ‘Parkir Bis’, Pak, Tapi Sistem Kerja..

Kemudian muncul perdebatan hangat di antara para pemerhati sepakbola yang menyamakan Catenaccio dengan taktik ‘Parkir Bis’. Anggapan ini, tentu saja, salah total. Meski sama-sama menerapkan permainan ultra-defensif, dalam Parkir Bis tidak dikenal system libero. Yang ada hanyalah menumpuk pemain sebanyak mungkin di area enam belas meter sendiri dengan hanya dua atau tiga pemain di lini depan dan berharap banyak melalui skema serangan balik. Sementara Catenaccio adalah kerja yang lebih kompleks dan sistematis.

Hererra dan Catenaccio yang sesungguhnya, tidaklah mengorbankan keluwesan (fluidity) sama sekali dalam penerapannya. Malah justru libero berperan vital dalam menghalau bola dan memulai serangan lewat kemampuan overlap mereka, dan juga para sayap difungsikan total untuk menyisir lapangan dan menyokong penyerangan kala tim menguasai bola.

Kendati demikian, tak pelak kehadiran Catenaccio juga menjadi bahan cemoohan sebagian khayalak pencinta sepakbola karena dinilai telah ‘menodai’ keagungan nilai sepakbola yang diukur dari seberapa banyak gol yang tercipta atau permainan menyerang terbuka yang dilakukan sebuah tim.

 

‘Kematian’, Evolusi Prinsip Dan Warisan (Pragmatis) Nan Berharga..

Rinus Michels; Meneer yang menemukan ‘kunci’ grendel Catenaccio

Dengan segala keampuhan dan kedigdayaannya, Catenaccio murni akhirnya harus tergerus jua oleh evolusi sepakbola, terutama dengan kehadiran skema ‘Total Football’ kreasi pelatih Belanda, Rinus Michels, yang benar-benar mengeksploitasi kelemahan sistem Grendel yang mengandalkan man-marking ketat. Dalam taktik Total Football, semua pemain dengan cair dapat mengisi peran gelandang, penyerang dan bek di lapangan, sehingga sangat membingungkan untuk dijaga satu per satu. Kemenangan Ajax besutan Michels atas Inter di final Piala Europa 1972 seolah menjadi ‘gong kematian’ bagi strategi Catenaccio di jagat sepakbola internasional.

Kendati saat ini Catenaccio bisa dikatakan ‘tinggal kenangan’, namun prinsip-prinsipnya yang efektif tetap diterapkan secara sporadis oleh para pelatih di kancah sepakbola professional. Setelah Total Football berjaya, para pelatih Italia tak tinggal diam dan mulai merancang skema untuk menghadapi taktik tersebut, pertama-tama dalam wujud zonal marking (penjagaan zona), dan kemudian ‘Zona Mista’, yang kerap disebut sebagai evolusi prinsip dari Catenaccio.

Adalah pelatih Luigi Radice dan Giovanni Trappatoni yang menyempurnakan strategi tersebut hingga puncak kejayaan. Zona Mista masih digunakan khususnya oleh tim-tim yang ditukangi pelatih asal Italia, dan terbukti hingga kini pun jarang ada tim asal negeri pizza yang menerapkan taktik tersebut bisa dikalahkan tim-tim asal Belanda saking efektifnya.

Antonio Conte; Melestarikan prinsip Catenaccio

Yang terbaru, pelatih Chelsea, Antonio Conte disebut menggunakan prinsip Catenaccio dan Zona Mista kala melibas Tottenham Hotspur di lanjutan Liga Primer Inggris tanggal 20 Agustus 2017 silam. Kala itu, Conte memainkan skema 3 bek dan memajukan David Luiz sebagai ‘perisai’ lini pertahanan di belakang N’golo Kante dan Tiemoue Bakayoko dengan sistem penjagaan zonal dan saling menggantikan posisi kosong rekannya. Hasilnya? Chelsea berhasil meredam Tottenham yang dikenal memiliki hulu ledak hebat seperti Harry Kane, Christian Eriksen dan Dele Alli dan menang dengan skor (tipis) 2-1.

Hal di atas membuktikan bahwa Catenaccio, dengan segenap pragmatisme dan aura negatif yang menyelimutinya, nyatanya memberikan warisan berharga di era sepakbola modern yang menuntut evolusi skema dan gaya permainan. Di tengah derasnya kemunculan istilah baru seperti tiki-taka, inverted winger, regista dan lain sebagainya, Catenaccio tetaplah menjadi prinsip klasik tersendiri nan abadi dan dapat ‘dihidupkan’ kembali sewaktu-waktu untuk memberikan kemenangan bagi tim yang membutuhkan.

 

 

Facebook Comments

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top