Liga Champion

Belajar Dari Ramos, Sang Profesional Sejati

Ini adalah waktu baginya, tidak ada cara lain untuk memandang hal ini. Mohammed Salah telah melayakkan diri untuk panggung besar ini bagi dirinya, timnya dan jutaan fans Liverpool di seluruh dunia. Tidak peduli dari belahan bumi manapun para kopites menyaksikan, semua memimpikan gelar ke enam ajang tertinggi Eropa mereka, dan ada alasan kuat untuk berharap bahwa impian tersebut akan jadi nyata. Bagaimanapun juga, Salah telah meniupkan asa tersebut di relung hati para fans The Reds.

Musim ini merupakan torehan bersejarah bagi karir Mohammed Salah. 32 gol dari total 38 pertandingan di satu putaran musim kompetisi Liga Primer Inggris adalah rekor baru yang berhasil dipecahkannya, melampaui striker hebat manapun yang pernah meninggalkan jejak di sepakbola Inggris Raya. Salah juga membawa performa gentasnya ke level Eropa dengan sejumlah penampilan hebat, termasuk kala merobek pertahanan Manchester City-nya Pep Guardiola bak kertas, dan juga mengkandaskan mantan timnya, AS Roma di semifinal. Tidak ada satu pun pengamat yang meramalkan bahwa Salah akan menikmati musim secemerlang ini. Salah telah memenangkan semua penghargaan individual, pujian, dan hati para pendukung Liverpool, dan tibalah saatnya untuk meraih hadiah agung terakhir musim ini, sebuah mahkota termegah sepakbola level klub pada hari Sabtu dini hari di Kiev, Ukraina.

Satu hal yang lucu tentang sepakbola adalah kebiasaannya untuk mengejutkan kita semua. Dunia si kulit bundar bisa membuat kita tercengang, seperti tendangan ‘sepeda tanpa roda’ Gareth Bale yang membuat bulu kuduk meremang, atau momen buruk yang tak kita pikirkan bisa terjadi, seperti kala Loris Karius melempar bola tepat ke arah kaki Karim Benzema yang menciptakan gol gratis bagi Madrid, atau kala kiper yang sama (di laga yang sama menghadapi pemain yang sama) gagal menepis sepakan jarak jauh yang tak begitu berbahaya dan malah memantulkan bola ke gawang sendiri di pertandingan terbesar yang akan pernah dilakoni sepanjang karirnya.

Tapi dari semua hal di atas, mungkin yang paling tak disangka banyak orang adalah apa yang dibuat seorang Sergio Ramos. Kapten dengan pengalaman 15 tahun bermain di level tertinggi, yang berevolusi dari seorang bek muda berbakat nan temperamental menjadi seorang ‘profesional’ yang menghalalkan segala cara demi meraih kejayaan.

“Kadangkala, sepakbola memperlihatkan anda sisi baik, namun di kesempatan lain, hal yang buruk. Di atas itu semua, kami adalah sesama pro (fesional). #SemogaLekasSembuh @MoSalah” demikian cuit Ramos lewat akun twitternya kepada Salah, sesama profesional yang bahunya nyaris ia patahkan dalam sebuah kontak fisik pada menit ke 26 di Kiev. Di permukaan, ini adalah bentuk doa dan harapan dari seseorang yang tidak bermaksud untuk menyakiti, tapi kebanyakan dari kita melihat lebih dari itu.

Ramos menjadi musuh publik nomor 1 saat ini, terutama bagi pendukung Liverpool. Tindakannya kepada Salah secara harafiah memadamkan sinar harapan Liverpool, dalam sebuah insiden yang tak disengaja namun kemungkinan besar direncanakan, tergantung imajinasi yang menyaksikannya. Tentu Ramos tidak berniat agar Salah melewatkan tampil di Piala Dunia, tapi wajar jika anda berpikir bahwa sebagai pemain bertahan, tugas utama Ramos adalah untuk menyingkirkan Salah dari permainan, dengan cara apapun yang dimungkinkan.

Bagi puritan sepakbola seperti pelatih Jurgen Klopp, tindakan Ramos bukanlah ruh dari permainan. Klopp sangat bangga dengan ‘cara benar’ yang diterapkannya sejak mengambil alih tampuk kepemimpinan tim Merseyside tersebut dan memainkan sepakbola menyerang penuh gairah. Namun sebagaimanapun kita ingin melihat kemenangan tim yang bermain dengan cara itu, ada tim seperti Real Madrid, yang bermental baja dan memiliki para individu yang bisa mengubah keadaan. Gareth Bale tentunya telah mencuri laman depan setiap media sepakbola dengan dua gol indahnya, Cristiano Ronaldo juga menjadi sorotan dengan komentarnya (dan fakta) bahwa ia merupakan kurator gelar terbanyak di era sepakbola modern, dan ada pula Sergio Ramos yang lolos dari gegap gempita media, tapi mengorbankan nama baiknya untuk memastikan kemenangan berpihak pada tim ibukota Spanyol tersebut.

Pepe dan Ramos; Meneruskan Seni Bertahan Ala ‘Sipir’ Penjara

Perlu kita ingat bahwa Ramos menghabiskan sepuluh tahun terakhirnya bermain sebagai tandem ‘sipir’ bengis seperti Pepe yang sudah terkenal dengan kebrengsekannya dalam menggalang pertahanan Madrid. Kala pemain asal Portugal itu hijrah ke Turki untuk merumput bersama Besiktas, tiba waktunya bagi Ramos untuk meneruskan seni kegelapan sendirian dengan baju zirah putih kebanggaan Madrid. Ia tahu betul di laga penting seperti final Liga Champion lah ia harus ‘merasuki’ segenap jiwa dan pikirannya dengan keberingasan Pepe dan menggunakan seluruh keberadaannya untuk memberi keunggulan bagi Madrid. Ramos telah ‘melahap’ Pepe, menyerap intisari yang dibutuhkan, dan merelakan sang mentor pergi ke tempat dimana karir ditakdirkan untuk mati.

Anda dan kita semua boleh percaya bahwa Ramos merupakan seorang bajingan, tapi ada sudut pandang alternatif. Di balik linangan air mata Mohammed Salah, ada para pebola paling profesional yang akan melakukan apapun untuk menang. Pejuang tangguh yang mutlak, tapi dengan trik-trik kotor yang tak jarang menjijikkan untuk menaklukkan lawan yang dianggap paling berbahaya.

Sesaat sebelum laga dimulai, sorotan kamera di terowongan stadium menunjukkan kerlingan penuh arti Ronaldo terhadap Salah, yang mengindikasikan bahwa para punggawa Madrid telah menyiapkan satu rencana bagi sang Malaikat Mesir. Ronaldo memang bukanlah sosok yang bersinggungan langsung dengan Salah karena keduanya sama-sama beroperasi sebagai ujung tombak, namun Ramos, yang ditakdirkan untuk head-to-head dengan Salah di lapangan, telah mengubah dirinya menjadi Terminator yang siap mengeradikasi satu masalah yang ada di antara timnya dan mahkota Liga Champion.

Selanjutnya, seperti yang kita saksikan bersama secara langsung, pergantian Salah terbukti menjadi titik balik pertandingan. Momentum yang dibangun Liverpool dengan amat baik di 25 menit pertama seketika lenyap kala Ramos dalam satu kesempatan menabrakkan diri dan memiting lengan kurus Salah dengan sebagian besar berat tubuhnya sambil menjatuhkan diri. Para fans terkesiap, lebih-lebih sepuluh pemain The Reds lain di lapangan, yang siap bermain dengan Salah sebagai porosnya. Sementara di kubu lawan, para veteran senior perlahan mengambil alih jalannya laga dan mencetak tiga gol sebelum malam berakhir.

Adalah mimpi yang mulia untuk memenangkan pertandingan sepakbola dengan “cara yang benar”, namun hal itu jarang bisa dilakukan, terutama di panggung semegah final Liga Champion. Tim Real Madrid saat ini memang tidaklah sempurna, namun ada alasan kenapa mereka harus dianggap sebagai salah satu unit sepakbola terbaik di muka bumi sepanjang masa. Mereka tahu betul bagaimana meraih kemenangan, dan akan menghalalkan apapun untuk mewujudkan hal tersebut.

Liverpool, dalam mengejar impian mereka meraih kejayaan dengan “cara yang benar” di masa depan, bisa belajar satu atau dua hal dari Ramos; sang profesional sejati yang bersedia mengorbankan segalanya untuk meraih kemenangan.

 

Comments
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top