Piala Dunia

Aliou Cisse Ingin Jadi Pelopor Pelatih Berkulit Hitam di Piala Dunia

Aliou Cisse berharap memori dari Bruno Metsu dapat menginspirasi para pemain Senegal di Piala Dunia dan memperkuat statusnya sendiri sebagai pelopor bagi generasi baru pelatih berkulit hitam.

Cisse, satu-satunya pelatih kulit hitam di Piala Dunia tahun ini, adalah kapten tim di bawah pelatih asal Prancis Magu ketika Senegal mencapai perempat final pada tahun 2002 yang merupakan penampilan perdana di panggung sepakbola internasional.

Dan setelah memberi penghormatan kepada Metsu, yang meninggal pada usia 59 tahun pada 2013 silam, Cisse berharap bisa memberi pengaruh positif bagi perubahan.

Berbicara dalam wawancara terakhir di Moscow, mantan gelandang Paris Saint-Germain tersebut mengatakan: “Memang benar saya satu-satunya pelatih berkulit hitam di Piala Dunia ini, tetapi ini adalah perdebatan yang mengganggu saya.

“Sepakbola adalah olahraga universal dan warna kulit Anda tidak terlalu penting.

“Bagus untuk memiliki pelatih hitam di sini yang juga menunjukkan bahwa kami memiliki pelatih berkualitas. Saya mewakili generasi baru yang ingin mendapatkan tempatnya di Afrika dan sepakbola dunia.

“Kami sangat bagus dengan taktik kami dan kami memiliki hak untuk menjadi bagian dari pelatih top internasional.”

Ditanya apakah dia akan berusaha untuk mereplikasi pembicaraan tim yang diberikan oleh Metsu dalam perjalanan mereka ke fase gugur 16 tahun lalu, Cisse menambahkan: “Apa yang disampaikan Bruno adalah ciri khasnya. Sekarang saya pelatih, saya punya cara sendiri untuk mengelola tim.

“Sebelum pertandingan ini pikiran saya pergi ke Bruno, dia melakukan begitu banyak untuk sepakbola Senegal. Dia mengangkat tim kami untuk pertama kalinya, ketika saya menjadi kapten dan sekarang saya pelatih tetapi kami tahu Bruno sedang melihat ke bawah dan kami bisa merasakan itu.”

Cisse melihat sangat sedikit kesamaan antara tim Senegal ini dan yang dia temui di Jepang dan Korea Selatan.

“Orang-orang ingin membandingkan 2002 dan 2018 tetapi mentalitas telah berubah, pendidikan telah berubah, cara orang berpikir telah berubah.

“Tim 2002 memberi banyak sukacita bagi negara dan tim saat ini akan melakukan hal yang sama. Saya sepenuhnya mempercayai mereka.”

Kamerun pada 1990 dan Ghana pada 2010 juga mencapai perempat final Piala Dunia, tetapi itu tetap merupakan hasil terbaik yang dicapai oleh negara Afrika di turnamen internasional.

Namun meski mengakui benua itu memiliki “kenyataan” yang berbeda ke bagian lain dunia, Cisse tetap yakin bahwa tim dari Afrika suatu hari nanti akan mengangkat trofi sepakbola paling bergengsi.

“Dua puluh tahun lalu, tim-tim Afrika datang hanya untuk menjadi bagian dari Piala Dunia,” jelasnya.

“Banyak yang telah berkembang. Kami telah menunjukkan bahwa kami dapat melakukan lebih banyak lagi, kami dapat berpartisipasi dan memiliki hasil yang sangat baik, kami hanya perlu pergi ke tahap berikutnya.

“Butuh waktu. Kami memiliki kenyataan yang tidak ada di benua lain, tetapi kami memiliki banyak kualitas dan saya yakin bahwa suatu hari tim-tim Afrika akan dapat memenangkan turnamen seperti Brasil dan Jerman.

“Kami tidak memiliki rasa rendah diri dengan negara-negara Eropa, Anda melihat banyak pemain Afrika di klub-klub besar.”

Comments
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top